Pesan suara yang berjudul “G’night” itu pun datang. Sebuah piano sengaja dimainkan dan direkam. Pada detik pertama, bunyi tekanan terhadap henponnya terdengar. Detik kedua hingga ke-58, suara piano mengubah suasana-jelang-tidur saya menjadi tenang dan hangat, satu detik berikutnya, bunyi tekanan pada henponnya kembali terulang. Suara itu berhenti. Satu hal yang ku mengerti, rekaman tersebut sengaja untuk dibuat dan dikirimkan, sepotong lagu the Beatles sengaja digubah dan diindahkan. Kesengajaan itu lah yang membuat saya semakin yakin bahwa dia, sosok yang tidak mungkin namanya saya sebut di sini, tidak sedang bermain-main atas sebuah relasi yang sedang dan akan selalu kami hidupi.
Aku mengingat betapa kalutnya batinku tadi siang setelah beberapa kali gagal mengangkat telponnya. Sinyal tak bagus, baterai hampir habis, dan kesesakan-otak yang sedang bersikeras memutar kembali ingatan tentang materi. Aku telah gagal menjawabnya, sekian kali juga aku mengutuki kesalahan karena hal yang sama tak pernah dilakukannya padaku. Menjelang siang aku bertanya, yang kemudian ku lampiaskan lewat tulisan ini: kata apa yang patut menggambarkan keberikhlasan atas perasaan atau welas asih yang kita tutur-lakukan?
Perlakuannya telah melampaui segala-galanya. Hingga ku sadari bahwa ada yang lebih tinggi derajatnya dibanding intensitas untuk mengucap dan berbuih-buih. Keindahan yang tidak semua orang dapat menemui, apalagi menjadi seseorang yang layak untuk diberi. Tentu yang aku dapat adalah sebuah kemewahan; pelukan mesranya dari belakang tubuhku, kecupan tiba-tiba sembari mengucap rindu.
Meskipun semua dilakukan tanpa pamrih, tanpa hasrat untuk mematerialkan atau mendeklarasikan kedekatan, aku sadar bahwa harapan itu telah diletakkan. Tentang bagaimana dia mempercayaiku dan merelakan waktu-waktu berharganya untuk menemuiku. Pukul 6 sore misalnya. Di sebuah stasiun di Jakarta, sosok itu bercerita, “hari ini aku ngrasa kangen banget sama kamu. Maaf ya sudah menculikmu tiba-tiba.” Pun, tidak ada kata lain yang bisa ku utarakan selain, “tidak apa-apa.” Tentunya sembari melengkungkan senyuman terbaikku. Tubuhnya, seolah telah menjadi candu yang harus ku rengkuh setidaknya sekali dalam sebulan. Terang sinar matanya yang telah menyembuhkanku dari lingkaran setan pertemanan yang menyesatkan dan menina-bobokkan daya pikirku.
“So proud of you.”
“For what? Saya orang biasa lho, tidak sepertimu.”
“Justru karena kamu biasa yang membuatmu luar biasa. Dunia ini sudah penuh dengan orang-orang luar-biasa yang saking luar biasanya, tercerabut dari akarnya masing-masing.”
Dahinya tidak berkerut. Artinya, perkataan itu diucapkan dengan jujur alias tidak ditambah dengan kata-kata sampah pemanis yang membuat makna kata tersebut menjadi cepat bau dan basi.
“Terima kasih. Tapi, sungguh, saya tidak suka pujian.”
“Aku tidak sedang memujimu. Aku hanya mencoba berkata terbuka terhadap pengalamanku mengenalmu.”
Tak ku sadari malam telah beranjak pagi. Lima hingga delapan kali bibir kami saling bertemu, dan lidah kami saling beradu.
“Dear…may I kiss your eyes?”
Tubuhnya yang lelah ku dekap erat dalam kalbuku, hingga tidak bisa ku rasai lagi bagaimana kemegahan yang digambarkan oleh definisi-definisi ala lingkungan sosialnya, dan bahkan hingga aku lupa perbedaan-perbedaan yang menjaraki kami berdua.
Malam itu, baru lah ku sadari bahwa ada yang telah mengikat kami berdua. Sebuah kesadaran dan ketidak-sadaran yang menjangkiti kami pelan-pelan, sampai pada akhirnya kami bertemu ketika rinai hujan telah selesai menari di jalanan.
“Maaf, aku harus segera pulang. Ada beberapa kerjaan kecil yang harus aku selesaikan. Kamu baik-baik ya.”
Bibir terangnya mencium tangan kananku, yang ku bisa hanya lah menyentuh pipi kirinya yang seterang mata batinnya.
Di pinggiran jalan tubuh kami bertemu lagi. Didekapnya tubuh saya untuk ke sekian kali.
“I love you.”
“I love you too. Hati-hati di jalan ya,” kataku.
Hujan telah berhenti. Namun perkataan tersebut terus-menerus berputar di kepalaku. Seseorang yang tidak mungkin namanya ku sebut di sini, diam-diam mencintaiku.