Enam bulan ke belakang, yang terburuk dalam sejarah.
Entah sudah berapa banyak nama yang saya “blok” begitu saja, saya acuhkan tanpa terbesit niat untuk menyapa nama-nama tersebut lagi, tanpa ada keinginan untuk mengimajinasikan dunia-yang-lebih-baik secara bersama-sama. Tahun 2019, adalah tahun di mana ketidak-pedulian saya meninggi dibanding hasrat saya untuk bersosial dan beramah tamah ria. Sepenuhnya saya sadar bahwa perubahan tidak akan berlangsung jika saya sendirian, tapi, dan yang lebih utama daripada itu, kesendirian adakalanya kita butuhkan untuk berjarak sebentar dari kenyataan sosial yang spesifik. Menyembuhkan diri agar segala tata laku dan tata tutur kita kelak terjaga dengan lebih plural dan universal.
Meminjam sebait kalimat dari penggalan lirik Melancholic Bitch,
“Setiap awal musim, kita siapkan. Segelas suasana sakit dan kehilangan. Setiap awal musim, kita siapkan. Semangkuk rasa perih, kebencian.”
Kehilangan, kebencian, hanya lah sebagian dari semesta kenyataan yang tidak lah tunggal. Jika dualisme beroperasi secara beriringan dan bersamaan, maka tiap kepingan atau bagan dari dualisme adalah ganda, adalah multi-layer. Sebab saya tidak percaya bahwa kenyataan itu tunggal, maka ketidak-pedulian saya pada tahun 2019 ini bukan lah sebuah akhir yang central. Saya menerima dengan apa adanya bahwa kekecewaan atas-apapun di tahun ini prosentasenya datang lebih banyak, dibanding ketersediaan untuk menanggapi segalanya dengan bahagia.
- Dendam
Di penghujung tahun 2019. Saya dikejutkan oleh sebuah pernyataan-yang-panjang dari seseorang yang hingga kini masih menyimpan dendam. Ketidak-sukaannya dalam beberapa keputusan yang saya ambil di masa lalu, nyatanya, masih menanggalkan ketidak-sepakatan yang dipendam. Dari sini saya belajar bahwa kebaikan, candaan selama bertahun-tahun, kepedulian, tidak berarti dapat menghapuskan dendam. Jika seseorang dengan mudah menipu saya dengan topengnya, bukan kah telah menjadi hak saya sepenuhnya untuk tidak terlibat dalam segala drama-yang-menipu ini? Alasannya hanya satu, saya tidak ingin seseorang tersebut larut dalam kebohongan yang dibuatnya sendiri.
Di akhir pernyataan tersebut, dan saya masih mengingat persis, “Ohya mungkin kamu tidak akan peduli dengan chatku ini, karna yang kamu peduliin kan cuma perasaanmu sendiri.”
Pada kalimat ini lah, api amarah saya meluap-luap menjadi tangis. Dendam menghapus semua interaksi sosial yang sengaja saya lakukan dengan tulus. Saya tidak menyesal atas apa yang telah saya lakukan menjadi sia-sia, saya kesal karena ketidak-mampuan untuk membalas pesan tersebut. Di satu sisi, ingin membalasnya dengan cara yang baik, tapi, bagaimanapun, kemanusiaan-yang-fana ini lebih menghendaki untuk amarah dibanding bersikap baik-baik. Di sisi yang lain, ingin membalasnya dengan cara yang kasar, tapi, bagaimanapun, saya telah menganggapnya seperti adik sendiri.
Yang saya bisa saat itu hanya satu, membiarkan segalanya berlalu dengan apa adanya. Semesta tau bahwa saya menghendaki ini atas ketidak-mampuan saya memilih; yang pergi biar lah pergi, jika suatu hari nanti dia datang, tentu saya akan menyambutnya dengan kebaikan yang sama, tanpa berniat untuk saya kurang-kurangi.
- Kepastian itu hilang, kepastian itu bohong.
Pada ruang belakang kita masing-masing, kenyataan panggung itu memudar. Kemegahan yang tergambar pada satu hirupan nafas, hanya menguap menjadi udara yang menghilang begitu saja. Pada ruang belakang ini lah, segala pilihan, keberpihakan menjadi hal yang tidak penting lagi untuk diperdebatkan. Satu-satunya yang tertinggal adalah keberanian untuk mencurahkan segala pikiran, tenaga dan kemerdekaan kita untuk sesuatu yang kita anggap sebagai ketenangan yang membahagiakan. Kepastian itu lenyap, seiring dengan ide yang meminta untuk dikembang-biakkan, berlari dan tumbuh pada tubuh semestanya sendiri.
Di penghujung tahun 2019. Adalah sebuah permulaan untuk menentukan kemana keberanian ini dipertanggung-jawabkan. Persinggungan saya dengan sebuah nama, menampar saya seketika. Saya dihadapkan pada sebuah potret ketenangan yang membahagiakan bersama buku, jurnal, lapangan, dan nulis! Jangan pernah lelah dan lengah oleh apapun, oleh siapapun.
Nama tersebut tidak hanya menghidupi saya secara intelktual, tetapi juga kehangatan dalam benak dan terang kalbu. Kesendirian itu menjadi tiada, saya telah bersama segudang bacaan yang harus saya selesaikan. Yang saya percayai akan lebih memerdekakan dan membuat saya sehat jasmani dan rohani. Sudah bukan waktu saya lagi untuk bermain, bersosial yang, toh, keabadiannya masih bisa dipertanyakan. Sedangkan kata, yang hidup karena imajinasi, akan selalu bersifat abadi meski pun raga saya tidak bisa ditemukan pada suatu hari nanti.
Perlahan asaku tentang gelar mulai memudar. Tidak lagi menjadi penting untuk apa menaruh waktu pada sebuah proses yang telah ditentukan oleh Batasan waktu, oleh batasan beasiswa, yang jika kita telah menunaikan itu semua, kita akan kembali dengan menjadi bukan siapa-siapa. Kita kembali pada titik semula, dengan kerendahan-diri yang sama, sebagai bangsa bekas jajahan yang hanya dilirik sebentar lalu dibuang begitu saja, dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Rasa-rasanya, pada proses asaku yang memudar ini, aku tidak akan membiarkan segalanya bermuara pada kesia-siaan, pada nihilnya karya yang ku hasilkan.
Menghadapi asa gelar yang memudar, justru membuatku ingin melampaui mereka yang telah bergelar. Dalam pahamku hanya satu, ide dihormati bukan karena kita bergelar, tapi ide adalah ide, yang diperjuangkan dan diupayakan untuk lahir dengan penuh rasa tanggung-jawab dan dapat diperdebat-kan. Tentu, aku tidak ingin berperangai seperti keledai yang tuli, aku akan bersosial semampuku. Bukan untuk merambah sejauh mata legitimasi sosialku beroperasi, melaikan lebih karena aku butuh ruang untuk berbaur, untuk belajar.