Rilis: [Dendam]

·

·

Jika benar bahwa kehidupan harus lah menjadi apa yang sekarang, bukan kah sebagian dari manusia yang ada hari ini, masih bisa hidup dengan kondisi keterbatasan? Hal-hal yang mungkin diragukan oleh orang-orang kebanyakan, rasanya tidak lah relevan lagi untuk dibicarakan. Kesalahannya mungkin 1, saya hidup di tengah orang-orang yang terlalu melebih-lebihkan, standar hidupnya sendiri. Berbeda, bukan berarti naif. Perbedaan ada di luar sana, di area yang tidak pernah kita imajinasikan sebelumnya, yang mungkin tidak akan pernah sampai radar kita bahkan sampai kita mati.

Jika benar bahwa kehidupan kini telah dikoneksikan oleh algoritma digital, bukan kah relasi yang kita bangun juga dihancurkan olehnya? Mengapa orang, masih saja melebih-lebihkan cara hidupnya dan mengerdilkan cara hidup orang lain? Tulisan ini adalah ungkapan kekesalan saya, melihat orang-orang yang terlalu memberhalakan satu cara kehidupan, yang secara tidak sadar, merendahkan cara hidup orang lain.

Sering saya dengar, tidak hanya satu dua kali, bahwa tidak tahu-menahu tentang kebaruan dunia adalah sesuatu yang menyebalkan, tidak bisa untuk diajak bicara lebih lanjut, dan tidak menarik. Jika saya cukup kasar, ingin sekali saya tanggapi anggapan itu dengan kalimat, “anda terlalu yakin kalau saya tertarik untuk berkenalan dengan anda. Satu hal, saya tidak butuh anda. Dua hal yang lain, anda mati pun, saya tidak peduli.”

Tidak tau adalah tentang apa yang tidak saya tau dari apa yang anda ketahui. Begitu juga berlaku sebaliknya, tau adalah tentang apa yang saya tau dari apa yang tidak anda ketahui. Jika menjadi tau atas sesuatu yang sedang hits hari ini adalah sebuah pencapaian yang gemilang, saya tidak perlu segala ukuran gemilang yang ingin anda kenakan. Menjadi tidak tau satu hal (apa yang hits hari ini) tidak bisa menjadi patokan atas ketidak-ingintahuan atas hal yang lain. Memangnya, anda siapa?

Kebaruan menjadi sesuatu yang menyakitkan, setidaknya setelah ia mampu merendahkan ketidak-tahuan. Bukan kah ketidak-tahuan adalah pangkal dari kebebasan seseorang dalam hidup dan berpikir? Waktu-waktu yang dihabiskan dengan caranya sendiri, untuk mencari tahu atas hal-hal yang memang dia ingin ketahui, bukan menjadi-tau atas hal-hal yang tidak ingin diketahui.