Teman Baik

·

·

Sepanjang sejarah hidup saya yang baru berlangsung selama 25 tahun, saya pikir Monika telah melampaui Batasan pertemanan yang pernah saya tetapkan. Pada kenyataanya, ada suatu “keajaiban” yang bagi kita sulit untuk menyangkalnya. Keajaiban it bermula ketika—karenanya—aku dipertemukan dengan sebuah kawanan yang baik dan tidak terlalu bermuluk-muluk dalam memikirkan dan hendak merealisasikan gagasan politiknya. Sayangnya tidak perlu saya sebutkan di sini, karena saya tidak suka pertemanan saya diketahui oleh siapapun.

Kawanan ini berada di daerah kumuh dan padat Jakarta. Sudah berdiri selama berpuluh-puluh tahun status “legal”-nya, namun lebih lama dari itu, kegiatan mereka telah dimulai sejak teman-teman masih muda. Jika sekarang mereka berusia di atas empat puluhan tahun, maka kegiatan mereka telah dimulai sejak lebih dari 30 tahun. Tidak perlu mengharapkan ketenaran apapun, mereka hidup seadanya dan sebagaimana adanya.

Mereka menjalankan pertanian organik di sekitar tempat singgah yang mereka dirikan sendiri, membuat empang untuk ikan mujahir, dan tempat khusus untuk penampungan limbah rumah tangga. Mereka juga secara swadaya membuat kandhang ternak untuk menampung kotoran-kotoran hewan yang akan mereka olah menjadi pupuk bagi pertaniannya. Di luar urusan bertanam, mereka membuat kelas belajar Bersama anak-anak jalanan, pengamen cilik, anak-anak kampung di bawah pohon di sekitaran sawah. Mereka pun, belajar apapun yang mereka mau. Dari storytelling tentang kegiatan di sekolah yang menyebalkan, cerita tentang keluarganya, bahkan cerita tentang mimpi mimpinya di hari esok. Pembacaan awalku berkata, sungguh, kawanan ini melakukan hal yang mulia.

Tidak ada satu pun orang di lingkaran kawanan itu yang menatap orang baru dengan curiga, mereka menghormati siapapun yang datang dan tidak mengharap benda kenang-kenangan untuk ditinggal. Mereka ada orang kampung, yang segala hidupnya, dilakui dengan sebagaimana adanya.

Jangan sangka. Mereka pun bisa menilai dengan kritis segala bentuk ketidak-adilan yang bisa dituturkan oleh teman-teman yang bergabung dalam kekawanan tersebut. Maksud saya, mereka bukan orang yang menjadi “kampung” karena ketidak-berdayaan mereka menjalani hidup, atau pun karena keterbatasan akses seperti orang-orang liberal pernah dengungkan, tapi mereka menjalankan pilihan hidupnya atas pilihan mereka sendiri yang sadar namun tetap ideologis dalam banyak hal.

Selain pertanian dan Pendidikan, kawanan ini juga menjalankan usaha sablon dari hasil cukil kayu dan seluruh labanya ditabung untuk mengadakan acara-acara yang menurut mereka penting bukan menurut donor penting. Kawanan orang-orang merdeka yang hidupnya tidak ingin disetir oleh siapapun, oleh apapun.

Terima kasih, Moon. Seorang Teman baik, membawaku ke ruangan orang-orang yang baik.