Membuang rasa: kesal.
Hans namanya. Mestinya kami berteman sejak SMA. Namun, kenakalan saya yang tak kenal sopan-santun itu, tidak mungkin bisa berteman normal dengan orang yang taat seperti Hans. Terhitung, kami baru berkenalan sejak saya semester 5, di saat saya sedang aktif-aktifnya berkegiatan di B21. Dia adalah orang yang normal, lagi taat, meskipun, dalam kalbunya, dia menghendaki apa yang menjadi keinginan terpendamnya: sekolah setinggi mungkin, sembari menggambar. Keharusan background studynya yang akuntasi, membuatnya merasa malu—sekaligus tidak percaya diri—bahwa keilmuannya bisa bermanfaat secara sosial bagi orang-orang di sekitarnya. Baik memang, tapi baik tidak lah cukup.
Setidaknya ada 3 hal toxic yang Hans perkenalkan selama berteman hampir 6 tahun (Sebenarnya, hanya 4 tahun sih, dikarenakan 2 tahun sendiri Hans menghilang). Ketiga hal tersebut adalah: 1). Kebiasaan menghilang, atau istilah kekiniannya ghosting, 2). Bingungan, dan 3). Perulangan. Ketiga hal ini merupakan racun yang selalu diulangi setiap musim, bahkan tidak ada moment di mana tiga hal tersebut tidak terjadi. Sampai pada satu titik saya heran, mengapa paradoks semacam ini tidak kenal kata henti? Apa tidak kenal kata bosan? Apa tidak tau tentang apa yang disebut prioritas, atau prinsip mungkin?
Sekitar seminggu yang lalu, seorang teman menyadarkan saya, lewat pesan-pesannya tentang apa itu ghosting. Singkat kata, menghilang tanpa kabar. Menghilang adalah hal semua bangsa memang, tapi menghilang di saat situasi genting adalah pekara lain. Hans selalu menghilang di saat kami sedang berantem, atau sedang ada pekerjaan SPR yang mestinya dia selesaikan. Sebuah pilihan yang, menurut hemat saya, tidak menyelesaikan masalah sama sekali.
Hampir di setiap kontak, Hans tidak pernah tidak mengucapkan kalimat berikut ini: mau makan apa ya hari ini? mau pesen gofood mahal ongkosnya, mau jalan kaki mager belum tentu ada yang buka. Tidak hanya soal makan, terkait dengan pilihan hidup, Hans selalu bingung menentukan arah berpijak. Dari soal sekolah, jurusan yang akan dia ambil, kursus atau tidak kursus, bekerja di sektor swasta atau kah BUMN. Kebingungan ini, you know, nular. Meskipun saya tidak melakukan hal yang sama, namun nangkring di memori dan kalimat tersebut seolah berbisik di sebelah telinga persis. Satu kali, dua kali, dan tiba-tiba menjadi sering terjadi. Pelan-pelan saya berpikir, ini tidak sehat.
Baik ghosting maupun bingungan, selalu dilakukan berulang kali secara simultan. Jika tidak sedang ghosting (dengan kata lain kami berkomunikasi normal), pasti sikap bingungan tersebut lah yang muncul. Tidak ada yang lain. Perulangan ini, pada satu titik, meledakkan keberanian saya untuk memblokir semua pintu yang memungkinkan untuk kami terhubung. Putus kontak adalah opsi yang tepat mengingat level toleransi saya yang sudah habis, sehabis-habisnya. Juga dalam rangka memberi ruang bagi kami masing-masing untuk berbenah. Jika memang berbenah mesti ditempuh dengan menghancurkan terlebih dahulu, tentu hal tersebut lebih baik dibanding membiarkan terlalu banyak sisi yang telah rapuh. Toh, suatu hari nanti, juga hancur, cepat atau lambat.
Pertama, bertemu lagi dengan Hans atau kah tidak, saya tidak sempat berangan-angan dengan hal tersebut. Bertemu yasudah, tidak bertemu yasudah. Kedua, saya tidak akan memulai untuk menunjukkan arah di mana kita mesti “berteman” lagi, juga tidak akan mencari-cari titik di mana kita bisa berteman lagi.
Saya tidak akan pernah membencinya, sampai kapan pun. Saya hanya memilih untuk berjalan,
ke arah yang lain.
Dan itu, sudah lebih dari cukup.