Entah kapan terakhir kali kami bertemu, satu hal yang saya ingat, saya menemui beliau di sebuah rumah sakit di Solo. Kala itu, beliau sedang menemani istrinya yang sedang dirawat di ICU karena penyakit kanker. Waktu berlangsung begitu cepat, keinginan saya untuk bertemu kembali dengan ayah, mesti saya urungkan dalam-dalam. Ayah telah berpulang, menemani istrinya yang lebih awal kembali pulang ke rumah-Nya.
Pengalaman sekolah formal saya menjadi “berkesan” karena sumbangsih Ayah. Saya diperkenalkan dengan banyak pengetahuan di luar materi pelajaran sekolah, yang juga sering melempari buku di saat saya sedang asik mencari buku bacaan di perpustakaan. Saya masih ingat ketika saya sedang mencari hingga baris terakhir lemari, mencari buku Pramoedya yang berjudul Mereka yang Dilumpuhkan, justru saya diteriaki dari belakang, “mbrang, liat sini!” dan saya dilemparinya buku karya Iwan Simatupang.
“Kan saya mau baca Pram, Yah!”
“Buku Pram sedang dipinjam. Baca ini saya dulu.”
Ya, kata penjaga perpustakaan sekolah, di sela-sela Ayah mengajar, dia sering istirahat dan membaca buku di sana. Selain hobinya merokok.
Dalam beberapa kesempatan di kelas, Ayah sering berkelakar tentang masa mudanya kuliah di Solo dan aktif berkegiatan di Yogyakarta. Ayah kenal dengan banyak nama—yang sekarang menjadi maestro seni—padahal dia hanya lah seorang guru SMA di pelosok kabupaten Blora. Bukan main, hampir semua jenis seni pernah dia lakoni, namun kecintaannya yang abadi hanya lah pada dunia sastra. Ayah bisa menjelaskan kenapa novel karya A lebih bagus dari novel B, dan bahkan diterangkan dengan model story-telling yang detil. Arinya, ingatan ayah terhadap buku, sangat lah panjang.
Ayah juga lah yang mengajari saya untuk menjadi berani, meskipun saya mesti berseberangan dengan orang-orang yang lebih senior daripada saya, bahkan sekalipun itu seorang guru. Saya masih ingat persis tentang kebimbangan untuk turut serta dalam sebuah lomba. Saya ragu karena kemampuan Bahasa Jerman saya yang masih pas-pasan, namun, ayah meyakinkan saya dengan cara yang amat sederhana, “ikut saja dulu. Jelek, bagus, menang, kalah, itu urusan nanti.” Dan diam-diam, ternyata Ayah lah yang meminta tolong kepada guru Bahasa Jerman saya untuk serius mempersiapkan keikut-sertaan saya pada lomba tersebut. Lomba selesai, dan saya dengan bangga menemuinya di depan kantor, “Yah, saya juara 1!”
“Aku bilang juga apa. Gimana guru PKN-mu? Malu gak dia?”
Selama SMA, boleh dikata, musuh terbesar saya adalah guru PKN dan guru Agama. Guru PKN meremehkan saya bahwa tidak mungkin kami bisa juara, apalagi juara 1. Sedangkan guru Agama benci dengan saya sejak perdebatan di kelas tentang wajib atau tidak wajib bagi seorang wanita memakai jilbab. Saat itu, guru Agama saya menangis dan memutuskan tidak akan melanjutkan materi kelas selama Ghembrang tidak minta maaf. Saya pun minta maaf dan menceritakan kejadian itu ke Ayah keesokan harinya.
“Gakpapa minta maaf, aku juga ngerti yang benar ada di siapa. Ini sekolah negeri, tidak semestinya membawa misi agama ke sekolah ini. Apa yang kamu lakukan sudah benar, seenggaknya sudah ada yang menjadi sandungan. Kalau dibiarkan terus, kasian murid-murid yang agamanya bukan muslim.”
Lebih dari apapun, Ayah juga lah yang pertama kali mengucapkan selamat lulus. Ibu saya, yang kala itu menemani saya melihat pengumuman kelulusan, juga diucapkan selamat karena, “telah punya anak seperti Ghembrang. Saya yakin suatu hari nanti, anak ibu pasti menjadi orang besar dan bermanfaat bagi banyak orang.” Hingga sekarang, baik saya maupun Ibu, menempatkan Ayah sebagai guru SMA yang paling pertama perlu kami datangi dan perlu kami ingat.
Ayah adalah sosok yang meletakkan kesadaran-pikir pertama kali bahwa ada dunia yang lebih menyenangkan di luar urusan perhitungan matematis, hafalan pasal-pasal hukum, dan kesadaran ideologis yang jauh-dari-kritik. Dunia sastra yang membuat otot berpikir kita kendur di kala stress, juga membuat kita terjaga dari segala peruntaian semu.
“Belajar terus pokoknya. Seperti namamu, Ghembrang. Kamu tau kan di Solo Ghembrang artinya apa? Bocah yang gak bisa diem.”
Ucapan itu disampaikan di rumah sakit. Saya tau bahwa pertemuan terakhir itu terlalu singkat, tapi saya menyadari bahwa ada batasan jam jenguk yang mesti saya hormati.
Adalah hal yang tersulit bagi saya melewati situasi kehilangan seperti ini. Rest in Love, Ayah.
Your little daughter,
Ghembrang.