Masa Kecil

·

·

Aku sadar bahwa segalanya akan bermuara pada ketiadaan, yang meninggalkan satu per satu orang, kalimat, ingatan, dan segala hal yang pernah hidup. Hingga detik ini pun, aku sedang belajar untuk menguatkan diriku sendiri, melepas dari segala yang membelenggu rongga dan sukmaku. Meski lambat, setidaknya kakiku tetap melangkah, telingaku masih mendengar sekelilingku dengan baik, dan mataku dengan setia menemani burung-burung berterbangan di depan jendela kamar kostku. Tahun ini, adalah tahun teramat berat untukku, selain nenekku meninggal, kehilangan guru yang menghidupi kelemahan masa remajaku, dan sekarang, keterpisahan menjadi seperti udara yang mesti ku hirup setiap pagi, ku abadikan dalam otakku setiap hari.

Beberapa hari lalu, waktu videocall dengan Loui, dia mencandaiku dengan cara yang kurangajar, sialnya, aku kepikiran hingga saat ini, “Kamu tidak butuh laki-laki, Vi. Pacarmu itu membaca dan menulis.”

Hell. Dia benar.

Begitu banyak hal yang telah aku lupakan secara mendasar. Dan menulis catatan ini semacam menjadi caraku untuk mengingat apa saja yang telah aku biarkan tenggelam dalam rutinitas harian, hanyut dalam pekerjaan, obrolan-obrolan singkat dan semu, juga berita-berita sampah yang meracuni pikiran otakku.

Sejak SD, sensorik atas kematian tidak lah asing lagi di telingaku. Paru-paruku rusak tanpa penjelasan medis yang berarti dan didiagnosis hancur lebih setengahnya. Aku yang masih kecil, tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Yang aku lihat, raut muka ibuku berubah drastis, dan sontak menangis sembari membawaku pulang. Jaket tebal tak pernah lepas dari tubuhku. Yang artinya, aku telah bersiap menghadapi dingin di kala malam hari, juga sesak dan keringat di sekujur badanku tidak pernah tidak datang pada waktu tidurku.

Tatapan seluruh keluargaku pun berubah drastis, sedangkan aku yang masih kecil saat itu, belum mengerti apa-apa. Rutinitasku sontak dijejali dengan obat-obatan berwarna oranye yang kemudian mempengaruhi warna urinku, dan, aku tidak diperbolehkan lagi jalan kaki pergi ke sekolah. Tukang becak selalu mengantarku ke sekolah tepat jam setengah tujuh pagi dan menjemputku pulang sekolah.

Kondisi tubuhku tetap lah sama dari tahun ke tahun, celakanya, menjadi tahun yang tidak baik untuk masa kecilku. Aku menjadi bahan bully-an di sekolah karena kelemahan fisikku, selalu batuk dan selalu menjadi nomor terakhir di semua jenis kegiatan olahraga padahal di kelas aku selalu juara satu, dan tubuhku yang menjadi kurus dari waktu ke waktu tak lepas jadi bahan bully-an. Aku masih tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi, tapi Ibu selalu mengajarkan untuk terus menerus belajar (entah sendiri atau kelompok), ikut les privat dengan guru SD, dan turut-serta segala macam perlombaan mewakili sekolah, kebanyakan, aku ikut lomba matematika, IPA, dan ilmu sains lainnya.

Ya, aku yang penyakitan saat itu, telah terbiasa dengan obat-obatan, dengan sesak di setiap malam, dengan bully-an dan aku penuh syukur pernah mengalami itu.

Moment-moment itu lah yang menjadi boomerang untukku sekarang.

Aku telah merasa jauh dari segala ingatan itu. Menjadi dewasa justru membuatku semakin acuh dan berkompromi dengan segala macam hal. Sampai aku melupakan bahwa bukan ini yang aku mau, bukan seperti ini praktek keseharian yang aku inginkan, yang mampu membuatku menjadi biasa di tengah serangan bully-an, menjadi biasa terhadap orang-orang yang menang dalam mata pelajaran olahraga yang selalu menertawai kekalahanku, juga membuatku mudah terlempar dalam kesendirian dan mengurung diri dari kerumunan pertemanan yang hanya tau tentang jajan permen dan ciki.

Menjadi dewasa hanya berarti satu, memiliki kesadaran moral. Lebih dari itu, ingin rasanya mengembalikan praktek keseharian di masa kecilku. Belajar, belajar, dan belajar. Dan baru lah saat ini aku sadar, bahwa di saat aku masih kecil, aku belajar itu semua untuk membunuh kecemasanku. Bahwa kematian telah berada tepat di depan sana karena paru-paruku telah hancur lebih dari setengahnya.