Derrida

·

·

Dekonstruksi = anti-teori dan anti-metode. Mungkinkan anti teori dan anti metode menjadi titik pijak untuk ‘memperkenalkan’ sesuatu?

Tidak banyak ujaran teoritis yang disampaikan dalam Bab 1. Dimulai dengan biografi sekilas kehidupan Derrida dari masa kecil hingga meraih singgasana intelektualnya. Derrida lahir di El Biar Aljazair yang tak lain wilayah bekas jajahan kolonialisme Eropa selama ratusan tahun dan memperoleh pendidikan sarjana hingga doktoralnya di ENS Perancis, sebuah perguruan tinggi swasta prestisius dan disana lah para intelektual berpengaruh di dunia pernah dididik. Dari Foucault, Althusser, Sartre, Simon de Behauvior, dll. Atas jasa Derrida juga lah, ENS semakin dihormati dalam keberhasilannya memproduksi pengetahuan—beberapa tahun kemudian diklaim sebagai obat kuat Posmodernisme—yang berhasil mengemansipasi ke-perbeda-an yang disingkirkan oleh dominasi Metafisika Barat. Derrida mengumandangkan sebuah semangat baru bernama Dekonstruksi yang pada dasarnya anti teori dan anti metode. Oleh karena kebaruan tersebut, Derrida memperoleh beragam penghargaan dari puluhan universitas terkemuka di dunia.

Pada tahapan ini harus saya akui bahwa apa yang dilakukan Derrida adalah menghasilkan penemuanBukan mengutip apa yang telah diutarakan oleh para intelektual terdahulu, juga tidak menggunakan metode yang telah ada sebelumnya. Kebaruan tersebut terletak pada penerapan sebuah eksperimen, di mana bukan eksperimen yang bersifat semena-mena, untuk menelanjangi teks-teks filsafat yang telah diberhalakan. Sebagaimana posisinya yang telah diberhalakan, teks tersebut mewujud sebagai sebuah sistematika cara pandang-lihat-pikir bangsa Eropa. Sebuah cara pandang di mana ‘pengetahuan’ hanya dapat dicapai menggunakan metode, teori, untuk menjangkau sisi objektif-nya. Satu-satunya pikiran yang terbesit di dalam kepala saya adalah tubuh Derrida yang kecil berhadapan dengan monster, raksasa, hantu, bernama Hegel, Frege, Marx, Descardetes, dll. Derrida tidak hanya memiliki keberanian, lebih dari itu, ia memiliki segudang bekal yang telah ia susun selama puluhan tahun, lewat ketekunan dan kedisiplinannya dalam membaca sebuah teks. Damn God, you just too  fantastic!

Derrida memposisikan teks bukan sebagai sesuatu yang dikenali, melainkan sesuatu yang harus dibedah. Dalam proses pembedahannya, sebuah teks arus lah ditelanjangi terlebih dahulu, dirobek permukaan kulitnya, dibelah antar lipatan daging, bila perlu dicincang jika ditemukan penyakit yang berbahaya di dalamnya. Analogi saya agaknya tidak berlebihan, karena metode yang ia terapkan serupa dengan alur pembedahan ala dokter medis. Derrida hendak menyelamatkan seorang pasien yang tengah menderita gagal ginjal akibat terlalu banyak mengonsumsi obat-obat generik bernama logosentrisme. Tentu proses pembedahan bukan kerja yang mudah, ada kemungkinan untuk berhasil dan pasien sembuh, mal-praktek, atau justru gagal lalu mati. Banyak pasiennya yang telah sembuh, terbukti gagasan emansipasi ke-liyan-an yang mewabah ke seluruh penjuru dunia, hingga muncul ilmu-ilmu baru semacam cultural-studies, antropologi, psikologi, sastra, dan khususna hermeneutik. Lalu bagaimana dengan seorang dokter dekonstruktif yang telah melakukan mal-praktek? Ada kah dokter dekonstruktif yang gagal dalam menjalankan perannya?

Pertanyaan tersebut, meskipun terkesan mengawang-ngawang, saya pikir dapat menjadi bahan refleksi kondisi keilmuan kita hari ini. Bagaimana seorang dokter telah—secara serampangan—memperlakukan pasiennya murni sebagai sebuah eksperimen, sehingga yang dihasilkan bukan menyembuhkan atau membuat pasien mati melainkan membuat koma (antara hidup atau mati). Sebuah kehidupan (keilmuan) yang berada pada posisi stagnan, tidak ada lagi yang baru sebab tujuan yang diemban adalah mengemansipasi keliyanan. Dengan kata lain, pembedahan tidak dilakukan dalam rangka mematikan sumber penyakit utama, akan tetapi, dalam proses eksperimen pembedahannya, menemukan penyakit baru (yang lebih membutuhkan penanganan sesegera mungkin) dan berupaya untuk ‘mengangkat’nya terlebih dahulu. Sedangkan sel-sel penyebab penyakit utama telah menyebar hingga ke mana- mana. Pada akhirnya yang tampak adalah Derrida memperkenalkan sebuah metode pembedahan yang baru di mana titik jejaknya ada di sana.

Buku : Derrida – Muhammad Al-Fayyadl.