Teman

·

·

 

Suatu hari, Ibu pernah berujar, “Sesuatu yang sama, pasti kelak merelasikan diri”

Bukan sekadar omong kosong. Ujaran itu nyatanya memang ada. Saya menemukan mereka di tengah Belantara Semesta yang liar dan sakit. Mereka, yang saya anggap sebagai sosok yang “sama” dan “bersama” saya hingga saat ini.  Sama karena kami berasal dari latar belakang yang sama, seperti cerita kehidupan terdahulu yang sama persis. Bersama karena kami terbiasa melakukan suatu hal dengan cara bersama-sama. Kami yang terbiasa makan bersama, debat dan saling menghujat, mengkritik dan menceramahi tanpa henti, atau sekadar mendengarkan satu sama lain tanpa pernah diminta. Saya menyebut mereka sebagai Teman, sebuah istilah yang saya posisikan berada di atas “Sahabat”. Kenapa?

Sahabat, bagi saya, adalah suatu konsep yang dipaksakan. Tentu kita tau bagaimana sekelompok orang mendaku dirinya “bersahabat”, pada akhirnya tidak lagi bersahabat karena alasan yang bersifat remeh-temeh. Misal, tidak lagi berada di satu kota, tidak sering kontak, alasan pasangan (yang paling sering), dll. Sebuah konsep yang dimistifikasikan dan dianggap seolah-olah sempurna. Padahal, sesuatu di dalamnya sangat keropos dan mudah sekali dicerai-berai. Sahabat merupakan cerminan ekspektasi kemanusiaan yang paling radikal dan patut dihindari, setidaknya bagi diri saya sendiri. Sebab, dalam perilaku ber-kehidupan, saya selalu menyisakan 1% (minimal) ruang akan datangnya kemungkinan yang “fana” itu datang suatu hari nanti. Seperti datangnya masa perpisahan karena masing-masing dari kami hendak membangun “diri”, membuka lahan penghidupannya sendiri.

Mereka adalah Ganesh, Tya, Manda, dan Rahma (urutan nama tidak mencerminkan tingkat kedekatan, semuanya sama). Masing-masing dari kami berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Justru perbedaan tersebut lah yang mendorong kami untuk membicarakan suatu hal dari kacamata yang berbeda-beda. Misalnya, politik pangan yang selama ini selalu dibicarakan secara sentralistik ke-nasional-an, ternyata bisa dilihat lewat cara pangan internasionalist dimana Ganesh ahlinya. Tya menyumbang bagaimana politik perundang-undangan di Indonesia ini bermain dan tidak memiliki celah untuk memgakomodir pendefinisian lokal. Dengan Rahma, biasanya saya membicarakan perihal sastra anak di Indonesia maupun di luar negeri, menjadi dewasa, dan menjadi wanita yang tangguh! Dibandingkan yang lain, Rahma terbilang sosok yang paling tegas, dewasa, dan kadang tidak berperasaan samasekali (dalam arti positif). Sedangkan Manda, karena latar belakangnya sebagai seorang Psikolog, lebih memposisikan dirinya berada di-tengah. Memoderatori dan menyemangati bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan cara yang baik dan bersama-sama.

Tentu, saya akan mengingat bahawa mereka berempat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saya selama ini. Meskipun Tya telah sibuk bersenang-senang dengan pacarnya yang tidak akan pernah saya sukai, Rahma yang akan berkutat dengan pekerjaan di perusahan ternama dan membudakkan diri di dalamnya, Manda yang ingin berusaha sepenuh tenaga untuk mengembangkan usaha bersama ibunya, dan Ganesh yang berniat menjadi tenaga pendidik dan melahirkan revolusi pendidikan di kemudian hari, toh, hanya kepada mereka ber-empat lah saya hendak mencari pertimbangan dibanding orang-orang yang kelak saya kenal. Juga kepada mereka lah, saya ingin membuat proyek-proyek “berbahaya” di suatu hari nanti. Seperti kata Ganesh yang kemudian diamini oleh kita semua, “Entah seperti apa kita nanti, pokoknya kita harus kerja bareng lagi.”