
(Tulisan diambil dan diolah dari Dapur Jurnal Balairung)
Our specific concern is the use of certain means of action and the discovery of new ones, means which are more easily recognizable in the domain of culture and customs, but which must be applied in interrelation with all revolutionary changes (Guy Debord, 1957).[i]
Geliat “revolusioner” merupakan sebuah fase yang tak terelakkan dari tuntutan kebuntuan zaman. Sejarah mencatat, pada rentang waktu 1957 – 1972, L’Internationale Situationniste (IS) berhasil membuka kanal-kanal seni di Perancis yang telah lama dibungkam oleh iblis kapitalisme. Gerakan seni yang dipengaruhi besar oleh gagasan Marxisme itu memporak-porandakan tiga pilar kesenian yang paling mendasar; fetishism of commodities, reification, dan alienation.[ii] Dalam hal ini, karya seni tak ubahnya seperti komoditas yang “diberhalakan”, digandakan dengan cara yang murah dan massif, dan mengalienasi para pekerja dari barang yang mereka produksi. Gerakan tersebut dipelopori oleh tiga serangkai, mereka adalah Guy Debord, Michèle Bernstein, dan Asger Jorn.
Lebih lanjut lagi, L’Internationale situationniste mempropagandakan sebuah gagasan seni baru yang bernama “Situationniste”. Ialah suatu gagasan dimana karya seni tidak lagi dihasilkan dari proses emosi yang mewujud menjadi bentuk, akan tetapi bentuk (dalam arti keruangan) menggerakkan emosi kolektif suatu masyarakat.[iii] Jika realisme Perancis berangkat dari “realitas” yang ditangkap kemudian digubah menjadi karya seni, Situationniste menyangkal bahwa realitas sehari-hari[iv] adalah seni itu sendiri.[v] Dan lebih dari itu, seni terlibat dalam misi transformasi sosial secara radikal dan revolusioner. Guna menyebarkan propagandanya, IS juga menerbitkan zine, jurnal ilmiah, buku dan membentuk beberapa kelompok gerakan.[vi]
Pada rentang waktu yang sama, arena sastra di Amerika dikacaukan oleh kehadiran segerombolan pelaku kriminal.[vii] Kekacauan tersebut merupakan sebuah konsekuensi logis dari kondisi Amerika yang terpenjara dalam gagasan materialisme pasca Perang Dunia II. Bagi gerombolan pengacau itu, materialisme—yang dibawa oleh sistem perekonomian kapitalisme—merupakan antitesis dari semangat kemanusiaan yang bersifat universal.[viii] Seni sastra yang mestinya terlepas dari belenggu materialisme turut dilahap lumat. Artinya, karya sastra tak lebih dari sesuatu yang bersifat kering, mengutamakan bentuk, dan jauh dari sisi humanis. Gerombolan pengacau atau yang lebih populer dengan sebutan Beat Generation digerakkan oleh tiga tokoh utama, yaitu Jack Kerouac, Allen Girnsberg, dan William S. Burrough.[ix]
Beat Generation menawarkan cakrawala yang meruntuhkan dominasi sastra narasi di Amerika. Allen Girnsberg dengan puisi magisnya Howl membuktikan bahwa “keindahan” karya seni bisa ditempuh lewat perulangan rima, diksi-diksi pendek, dan mengandung sosial yang mencekam.[x]Burrough dengan metode eksperimennya Cut-up Writing mengumpulkan serpihan-serpihan kata acak yang kemudian ia susun menjadi sebuah puisi.[xi] Dalam hal novel, Burrough lebih bereksperimen dengan tokoh-tokoh yang tidak pernah di pikirkan manusia sebelumnya. Seperti novelnya yang pertama, Naked Lunch. Berbeda dengan dua kawannya yang lain, Jack Kerouac justru terlebih lebih spiritualis. Karyanya On The Road memperkenalkan gaya hidup baru bagi kalangan remaja di Amerika. Konsumerisme—sebagai sebuah gaya hidup remaja—dihancurkan lewat sebuah cerita tentnag pencarian “jati diri”.[xii]
Internationale Situationniste maupun Beat Generation mengajarkan pada kita bahwa suatu zaman memiliki titik jenuhnya masing-masing. Titik jenuh tersebut bisa “dibaca” oleh setiap orang yang merasa dunia ini berada dalam darurat kewarasan. Gagasan—atau hasil pembacaan itu—niscaya mengalami padu-padan jika sasarannya adalah penemuan yang berguna bagi kemanusiaan. Bahkan, Omi Intan Naomi (1998) dalam pengantar buku Menggugat Pendidikan dengan tegas menulis, gagasan tidak akan pernah bisa dipenjarakan. Sekalipun institusi pendidikan mencoba untuk memenjarakan itu, gagasan akan berontak.[xiii] Sebisa mungkin mencari celah untuk menyelinap keluar, bebas, dan berpretensi melawannya suatu hari nanti. Titik jenuh disini tak lain adalah pertemuan antara sebuah tirani yang mapan berhadapan dengan semangat perlawanan yang ada di hari itu.
Titik jenuh kejumudan intelektual menara gading yang bersanding erat dengan bobroknya sistem jurnalisme komersil mengerucutkan satu alasan kenapa Balairung ini berdiri. Hal tersebut diperkuat adanya semangat kebersamaan yang dirasai oleh setiap awak, persamaan dalam hal frekuensi berpikir, dan satu visi untuk berusaha “memperbaiki” keadaan. Jika ikhtiyar menghidupi organisasi dilandaskan pada beban sejarah, niscaya tidak pernah ada semangat di level individu-individu. Dalam hal ini, balairung ada sebagai sebuah “gagasan” yang menghancurkan, sekaligus mendobrak otoritas kemapanan hari ini. Sebab, kemapanan—atau sesuatu yang melanggengkan status quo—tidak lebih dari reproduksi kekuasaan yang tertutupi dan sukar dijamah.
Gagasan, sebagai mana mestinya, tidak pernah menemukan kematiannya. Jika ia telah usang, tidak berarti ia tidak relevan untuk dibicarakan. Sama seperti rentetan sejarah Balairung, sekalipun lembaga ini merupakan hasil kesepakatan yang bersifat “usang”, tidak berarti gagasan di dalamnya tidak relevan untuk senantiasa dibicarakan. Bahkan, sampai hari ini, pembicaraan itu hanya tiba di sebuah persimpangan yang menyatukan. Bahwa integrasi antara Pers dan Mahasiswa [standing-point balairung] masih perlu didedah lebih mendalam oleh pihak internal kelembagaan. Sedangkan gagasan yang disampaikan lewat semua produk Balairung bisa menjadi satu penanda zaman—pada satu rentang waktu dan ruang tertentu—bahwa kondisi yang ada di depan mata kita tidak se-baik apa yang kita lihat. Dan benar sesuai dengan apa yang kita yakini.