28/5/19

·

·

Ku rasai semua belulangku membeku dalam ingatan tentang kecupan, percakapan, dan kecemburuan yang mungkin bakal berakhir di meja persidangan. Aku tidak pernah mengharapkan kehadirannya samasekali. Sama seperti ketika kita tidak pernah mengharapkan siapapun orang yang kelak kita kenali, namun segalanya terhubung dan lepas dari kendali. Aku bersumpah bahwa diriku bukan lah seorang yang relijius, yang rela menghabiskan waktunya untuk mencari definisinya tentang berhijrah, aku tak lebih dari seorang jalang yang berlalu dan sendirian. Orang-orang kerap menanyaiku: mengapa kamu suka sendiri? pada tulisan singkat kali ini, ingin sekali aku berbagi bahwa:

Kesendirian membuatku lebih baik dari segala pilihan yang terbaik. Ketika dunia telah diriuhkan dengan selentingan para babi pecundang, yang kerap mencari aman di bawah ketiak para bos dan donor kapitalistiknya, lebih baik aku berkutat dengan ruanganku sendiri. Menanam pikiran yang suatu hari nanti bisa disemai lagi oleh generasiku. Minimal, tubuhku tidak akan terlupa seperti mereka-mereka yang hanya pergi dan berlalu dalam rupa informasi yang mudah diintervensi dan diluluh-lantahkan oleh negara. Kesendirian, dalam arti sesungguhnya, ialah menjangkarkan tubuh pada ketiadaan yang abadi.

Singkawang. Jelang tidur.