GH/3

·

·

Makam Freiderich Nietzsche.

Rocken, Weissenfels,
Leipziq, Jerman.
22 Juni 2015.
Capaian saya yang paling berkesan tahun ini adalah ziarah ke makam Nietzsche. Sungguh di luar ekspektasi bahwa saya termasuk salah seorang yang berangkat untuk riset di Jerman. Bahkan, saya sendiri hampir lupa tentang program tahunan Antropologi yang saya ikuti. Maklum, fokus saya saat itu hanya satu : menghidupi organisasi.
Ya, telah 4 tahun saya mendengar namanya. Sejak kawan-partner-guru-kakak Day Tripper menyodorkan beberapa judul buku. Saat itu (SMA), saya tertarik dengan 2 judul buku : The Rebel dan Senjakala Berhala dan Anti-Krist, buku yang sempat membuat saya kalang-kabut untuk mengerahkan 100% kinerja otak untuk memahaminya. Sayang, Ino (Day Tripper) sudah tidak ada lagi di dunia. Mungkin Ino dan Nietzsche sedang ngebir bersama? atau diskusi, atau justru saling mengumpat? Entahlah. Yang jelas, sepeninggalan Ino, hidup saya hanya terberangus sepi–terhempas jauh dari Nietzsche dan balantaranya.
Terhempas jauh dari teks-Nya Nietzsche, tidak membuat saya tidak pernah mendengar namanya dibicarakan. Bahkan, boleh dibilang, 4 tahun terakhir namanya sering disebut di beberapa kali kesempatan. Dari obrolan di kantin, di sepanjang jalan, maupun diskusi di sebuah fakultas. Ya, jangan salah, 4 tahun ini, Nietzsche jadi “mainstream”.Saya ingat benar, di kantin fakultas di UGM, seorang pria berkata, ” Gila lah Nietzsche. Pikirannya keren. blablabla. Seorang lagi menyambar, “Iya apalagi konsepnya Nietzsche soal blablabla. Nietzsche itu gini-gini, dan blablabla”Hanya bisa menghela nafas saat mendengarnya, karena terdengar begitu naif.

Nietzsche, Karl Marx, Foucault, Derrida–atau siapapun yang kau ‘anggap’ hebat– mereka (menjadi) hebat karena mereka “menulis”. Mereka merekam kondisi yang terjadi di sekitar mereka. Bayangkan jika kerja keilmuan hanya membicarakan orang yang mati? Lantas siapa yang merekam kenyataan-kenyataan baru? Lepas SMA, saya meninggalkan Nietzsche begitu saja. Tanpa permisi, meskipun sesekali masih memikirkannya dalam hati. Apa boleh buat, saya telah mengambil kerja Antropologi sebagai sebuah permulaan; sebuah ‘eksperiment’ untuk merekam kenyataan-kenyataan baru. Juni 2015, singgah sebulan di Negara Nietzsche berasal. Beberapa orang lokal melabeli saya “Aneh, gila, sangat aneh, dan sangat gila” di saat saya mengutarakan bahwa saya ingin ke Nietzsche Denkmal (makam Nietzsche). Sebab, mereka mengira turist (mungkin saya tergolong turis kali ya?) lebih tertarik ke Paris, Swiss, atau beberapa negara tetangga. Tapi saya justru memilih makam, tempatnya orang mati–Nietzsche pula–seseorang yang dianggap paling “gila” di negara ini. Keanehan ini justru didukung, orang-orang di dekat saya mempersiapkan segalanya dengan baik.Dari transport, tempat tinggal, dan nama jalan yang harus saya hafalkan. Makamnya berada di desa yang amat jauh dari pusat kota. Dan ya, akhirnya saya menemukan monumentMu di dunia, Nietzsche. 2 jam lebih bersama, dan membicarakan keluh-kesah (dan refleksi) melewati sebuah ruang antara yang terasa ganjil. Hutang harapan telah terbayar, satu.Dan, ini lah kumpulan foto sesaat di makam Nietzsche. Sosok filsuf yang saya sayangi dan kagumi karena ke-gila-an nya.