Sunyi/Api

·

·

Sepersekian detik laju ombak tak lagi bergenyit

lelantunan palung berdecak kagum

pandai meleleh di pusaran kaum ibu

lelah meletih di pangkuan bapak penghujung

Delima dangkal bersuara

rerantingan udara menguap di udara

menapaki setiap derita

bumi dan setan, iblis dan manusia.

Pusat pusat horizon termanifestasi di langit-langit kaca

membelah samudra yang tak berdaya dimakan polusi-polusi darah dan kotoran pabrik romansa

terhampar planet asing yang menghentak tubuh paus raksasa

Laksana benang di langit jingga

Pijar mengungguli bulan purnama

Dewa itu mitos, katanya.

sepersekian menit dikebiri laju media

sampah-sampah pikiran meracuni,

Kalbu seorang Ibu yang sejenak menghela sunyi.

 

Dan,

 

Api.

Jika ia tidak membakar, maka ia menghangatkan daki.

Menyapu pengharapan, yang dipupuk ketiak ekspektasi

Menerangi semua sisi

dari raga hingga usangnya mati

Sang api  berkelana. Sendiri.

Jalan-jalan menyalak benci, menyeringai tajam minta dimaki.

 

Sunyi dan api,

merasai kehilangan serupa wujud nadir penghabisan

kekosongan spiritual

yang ingin diisi sejengkal perbedaan

generasi

ketidaksombongan kekaguman, dan selentingan gelar dan jubah kebesaran.

 

“Ini namanya hidup, Nak. Jika kau tidak hidup, jangan pernah merasa paling tau sendiri”

 


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *