Beton-beton mengapit
selintingan babi dan motor nan genit
Di antaranya melata, jemari meraba
tanah ingsun yang tak bernama.
Bapak meminggul, ibu-ibu bersanggul
biaya anak-anak sekolah di SMA Unggul.
Pengunjung memanggil rejeki,
dedaunan uang tak sudi untuk menanti.
Di telan liur racun polusi,
anak-anak jalanan sedih berlari.
Terowongan-terowongan di udara
memediasai pasangan anak muda,
memadu kasih,
di seperempat usia.
Rerombongan ibu-ibu PKK
mengais koin, sapi perah yang mereka
punya mesin politik berbanteng merah,
menyulap penderitaan menjadi kemerdekaan.
Bukan! Ini semangat kemanusiaan!
Tidak tentang konglomerat
menghisap pilar kehidupan rakyat.
Detik kelima bus kuning melaju
menghentak peperangan dengan debu dan deru
gedung-gedung menjadi saksi
rejeki leluhur
yang hendak dikebiri.
Semanggi. Diracun Polusi.