Langit

·

·

[Refleksi] Januari 2018

 

Langit, namanya. Seorang laki-laki yang menemani saya 15 jam dalam satu hari ini. Darinya saya belajar bahwa batas “emosional” itu penting.

***

Kami bertemu di stasiun Pasar Minggu. Tak banyak yang kami obrolkan saat itu, kami bergegas mencari tempat tuk beli helm, mampir beli makan, dan menuju Toodz House—kafe ala rumahan di mana saya pertama kali bertemu dengan (sumber) Api. Juga sebuah tempat yang saya tetapkan sebagai : lulus atau tidakkah seseorang untuk menjadi kawanan-api saya di kemudian hari. Sedangkan kawanan-api adalah orang-orang yang berada di dalam Ring One, yang dekat secara batin, fisik, maupun pikiran. Orang-orang yang membuat saya hangat dan lebih baik.Jelang Magrib kami tiba di Toodz House. Duduk di smoking area, kotakan ruang yang berdekatan dengan kotak ruang yang lain di mana saya dan Api dua kali bersama. Langit,  adalah tipikal pria pendengar yang baik. Saat itu, saya yang mendominasi pembicaraan. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang telah terjadi selama hampir 8 bulan kita tidak bertemu, juga tentang dinamika emosional, relasi, dan perjalanan intelektualnya. Kesan saya hanya satu : Dia telah belajar, Dia tumbuh.

“Pindah, Yuk!,” ajaknya mencari ruang ngobrol yang lain.

Seperti biasa, layaknya yang kami lakukan selama di Jogja, perlu waktu yang cukup lama untuk menentukan tempat yang baru.

“Di mana?”

“Kamu mau tempat yang seperti apa?”

“Kita kan niatnya mau makan. Bagaimana kalau di sekitar UI? mungkin ada kafe yang menyenangkan di sana”

Belum final. Di perjalanan kami masih di berdiskusi di mana tempat/kafe yang menyenangkan untuk bercakap-cakap. Langit, saya akui, adalah lelaki pengingat yang baik. Dia membawa saya melewati sebuah danau di UI, berkeliling kampus UI yang penuh dengan pepohonan besar, di malam hari, dan sepi penghuni. Dia (mau) mengingat kalau saya ingin sekali jalan-jalan, melihat ruang lepas tanpa sketsa gedung di depan mata. Hanya ada gemericik air dan udara yang tenang.

Hampir sebelas malam kami tiba di Roti Bakar Eddy di daerah Margonda. Saya amati sekeliling, dari lantai satu hingga lantai dua, dari awal hingga sudut ruangan. Tempat ini bukan hanya ruang untuk aktualisasi sosial kaum remaja, tapi juga ruang-makannya para keluarga. Se-begini tidak berarti kah “ruang-makan” di rumah sendiri, hingga memilih untuk keluar? Kira-kira pertanyaan sekilas itu lah yang berada di dalam benak saya saat itu.

Pukul sebelas hingga dua pagi, saya sengaja memantik Langit agar lebih mendominasi obrolan. Langit, adalah seorang penanggap yang baik. Langit berkisah tentang 1). pengalamannya selama ikut menemani warga-warga gusuran di Kulon Progo, 2). tentang persatuan framing dalam mengorganisir gerakan yang dia contohkan dengan gerakan masyarakat adat di Brazil, 3). kecintaannya dengan album baru Melancholic Bitch, 4). keberpihakannya terhadap issu LGBT, 5). pengalamannya dalam membaca beberapa buku selama satu bulan, dan masih banyak lagi.

“aku mulai bosan. kalau pindah, bagaimana?”

“Boleh. Yuk. tapi, ke mana?”

“Hmm aku pun tidak tau.”

“Yasudah. Jalan saja dulu.”

Kami jalan. Di setiap persimpangan, selalu ada pertanyaan, “ke mana ni?”

“Kiri”

Kami belok kiri. begitu seterusnya. Sependek ingatan saya, kami sempat jalan menuju Toodz House lagi, dan sampai di daerah Bulungan. Ada sebuah taman di sana, ada kolam kecil. Di sepanjang jalan, para wisatawan kuliner hilir-mudik. Motor-motor touring parkir di bibir jalan, dan puluhan pedagang kopi berjualan di sekeliling taman.

Kami duduk di lingkaran kecil yang berada di tengah kolam. Batin saya kalut. Tempat ini tidak beres. Kepingan cerita gelap yang pernah terjadi di tempat ini mulai tersusun, dan simtom kejadian buruk akan menimpa kami mulai menampakkan narasinya. Telinga saya “diketuk” untuk mendengarkan satu arah di mana ketukan itu muncul, dan mengamati “terowongan” yang terlihat di arah tersebut. 

Betul.

Segerombolan pemuda datang dari arah itu. Sejauh saya lihat, mereka membawa alkohol dan berenam jumlahnya. Ada yang menjalar di dalam tubuh saya. Kekalutan, berkecamuk, dan menghendaki harus segera pergi. Radar batin saya berkata, “pergi. lekas pergi.”

Hampir 10 menit saya menahan radar-batin itu. Langit masih bercerita, yang saya pun, tidak bisa mencernanya samasekali.

“Kita pindah ya. Aku ga baik”

“kenapa?”

“Coba lihat ke sana.”

Langit, adalah seorang pemerhati yang baik.

Simtom tersebut menguras habis tenaga saya untuk berjalan. Saya lemas, cemas, melewati gerombolan yang di “terowongan” itu tergambar hendak mencelakai kami. Mereka bersiul, dan berceloteh hendak “menyenggol”. Tangan kiri Langit saya genggam. Saya tidak ingin meninggalkannya sendirian, juga tidak ingin terpisah sendirian. Dalam batin saya hanya terus-menerus berdoa, “jaga kami, Semesta.”

Setelah jarak agak jauh, lengan itu saya lepas. Energi saya habis, untuk “menyelesaikan” kekalutan lewat perantara batin.

“Duduk di sini dulu ya.”

Kami duduk di sepanjang kursi yang dekat dengan tangga keluar taman. Batin saya runtuh. Saya tidak berdaya sama-sekali. Di mana saya pun enggan untuk menceritakannya pada Langit yang terlihat lelah. Kami mulai suatu obrolan. Tidak ada yang saya ingat samasekali tentang obrolan itu, karena energi dalam tubuh saya sudah habis.

Dua anak kecil menyambangi kami. Mereka berjualan tissu hingga larut pagi. Kenyataan seperti ini terlampau biasa di Jakarta. Fokus saya saat itu, “saya ingin mengembalikan energi lagi dengan cara mendengar cerita dari kedua anak itu.”

Saya pun mencerca kedua anak itu dengan beberapa pertanyaan. Kenapa berjualan hingga pagi, kemana bapak dan ibu, kenapa sampai pisah kota, kenapa sampai putus sekolah, apa kegiatannya sehari-hari, dan keduanya bertukar-cerita tentang film horor yang lebih seram dibanding Suzanna :

1). Bocah A, “Kalau aku, umurnya 13 tahun kak. Dia 12 tahun kalau tidak salah. Aku awalnya sekolah di Kampung, tapi ke Jakarta lalu putus sekolah. Ibuku pengamen, bapakku jualan sayuran di Lampung.”

2). Bocah B, “Kakak itu mirip sekali sama artis cara ngomongnya. artis yang ada di televisi. Beneran kak.”

3). Bocah A, “Aku suka banget sama film horor kak. tapi menurutku film Suzanna nggak serem. Ada film horor tahun lama yang lebih serem. tahun 70-80 kayaknya kak. Judulnya Pengabdi Setan. Itu ceritanya ada kepala yang ketancap sama besi.”

4). Bocah B, “Aku pengen banget sekolah lagi kak. tapi akte kelahiranku ketinggalan di kampung. Kapan ya kak bisa sekolah tanpa akta kelahiran seperti itu?”

Saya kagum dengan kedua anak itu. Tuturannya tentang kehidupan begitu menjangkar pada; keberaniannya-melihat-kekejaman-visual-di-film-horror, ketabahan, dan, jujur. Keduanya pamit, mereka mesti berjualan lagi agar bisa segera pulang dan tidur.

“Terima kasih ya, kak”

Disalaminnya kami berdua. Dalam batin saya yang terdalam, “lindungi kedua anak itu, Semesta.”

Tak berselang lama, kami memutuskan untuk pergi. Di pertengahan jalan, badan saya gemetar hebat. Saya butuh air. Kami putuskan duduk di bangku kosong.

Langit, adalah seorang laki-laki yang baik. Titik.

“Kamu kenapa?”

“aku baik. hanya butuh air untuk memenangkan.”

Saya sempat terdiam sebentar. Sampai akhirnya saya kembali seperti semula, tapi belum berniat untuk berjalan kaki lagi. Sekitar 30 menit kami duduk di bangku itu. Bercerita tentang dinamika emosional dan relasi yang sama-sama kami alami sejauh ini. Langit, hampir jatuh pada hati seorang wanita. Saya dengarkan sepanjang Langit bertutur, dari keterangan pertama hingga dia terhenti dengan sendirinya.

“Kutub yang sama akan cenderung tolak-menolak. Aku percaya sekali itu. Perihal asmara, adalah perihal mau berbagi peran dan berkompromi. itu lah kenapa, kecenderungan yang terjadi, pasangan yang bahagia adalah pasangan yang keduanya berbeda samasekali. tapi mereka mau berkompromi. Aku tidak bilang bahwa yang-sama-secara-kepribadian itu tidak cocok. tapi, sosok dan peranmu itu, dibutuhkan oleh orang lain yang amat berbeda denganmu. Begitu juga wanita yang kepadanya kamu sedang jatuh hati. Peran wanita itu, dibutuhkan oleh pria yang perannya lain. Kecuali, kamu dan dia, berada pada satu garis mimpi yang sama. Misal, kamu seorang seniman, dan dirinya seorang seniman, tapi kalian berdua punya mimpi dan imajinasi yang sama tentang seni, ku pikir tidak akan jadi masalah apakah kepribadian kalian sama atau tidak. Pertanyaanku, kalian ada di dalam satu garis mimpi yang sama tidak? Aku tidak hendak mengintervensi apapun terhadap kehidupanmu. Belajar lah dulu, sejauh mungkin.”

Langit tampak tenang.

Kami mulai melanjutkan perjalanan. Sengaja kami singgah di Lawson dekat kos, hanya untuk menunggu sampai gerbang pintu kos saya dibuka. Justru di sana lah, obrolan-batin kami dimulai. Saya bercerita kepadanya tentang hal-hal yang paling membuat batin saya kecewa. Khususnya tentang beberapa intervensi pertemanan yang seolah hendak “membatasi” saya.

“bahkan, menurutku, itu juga tidak wajar. bahwa yang kamu anggap itu tidak mungkin, bisa jadi mungkin kan di suatu hari nanti?”

Langit berdiri di kubu yang sama dengan pertemanan saya itu. Saya, tetap, sendiri.

Mungkin ke-bebal-an ini, belum juga mau pergi. Saya masih dikuasai Api. Sungguh.

Berikutnya, Langit bercerita. Kecintaannya terhadap beberapa tokoh sastra, terhadap satu gaya hidup spesifik dan saya pun juga hidup di dalam “gaya-hidup” tersebut. Kami bertukar-pendapat tentang keberpihakan, pengaruh, kejijikan terhadap diri sendiri, dan, mimpi.

“Batinmu, “romantis” ala sastrawan. Tidak heran jika banyak lawan jenis yang mungkin tertarik dengan sosokmu. Kamu mesti nulis. Aku yakin, karya sastra yang kamu hasilkan pasti bagus. Dan jika kamu percaya dengan batinmu sendiri, aku yakin kamu bakal jadi sastrawan yang berpengaruh. Baca batinmu, ya.”

Batin adalah : ruang yang menghubungkan antara pikiran (logika berpikir dalam menentukan pilihan) dan kesatuan Alam Semesta yang membentukmu hingga saat ini. Ada kepingan sejarah di sana, yang mewujud dalam gegaris simtom, dan membentang di sepanjang persinggungan antar garis(pilihan)kemungkinan yang tersedia. Baca lah di mana titik itu berada. 

Pukul 07.52, kami tiba di depan gerbang kos. Pertama kalinya seorang laki-laki saya tunjukkan tempat “meditasi” saya selama di Jakarta.

“Kamu nggak bakal baper, kan? Terima kasih ya. hati-hati”

Saya peluk tubuh kurusnya. Agar batinnya membaik, dan simtom “tragis” yang kelak terjadi, tidak akan pernah terjadi. Jika terjadi, tunda lah hingga tua usianya nanti.