Pusat Semanggi

·

·

Beton-beton mengapit

selintingan babi dan motor nan genit

Di antaranya melata, jemari meraba

tanah ingsun yang tak bernama.

Bapak meminggul, ibu-ibu bersanggul

biaya anak-anak sekolah di SMA Unggul.

Pengunjung memanggil rejeki,

dedaunan uang tak sudi untuk menanti.

Di telan liur racun polusi,

anak-anak jalanan sedih berlari.

Terowongan-terowongan di udara

memediasai pasangan anak muda,

memadu kasih,

di seperempat usia.

Rerombongan ibu-ibu PKK

mengais koin, sapi perah yang mereka

punya mesin politik berbanteng merah,

menyulap penderitaan menjadi kemerdekaan.

Bukan! Ini semangat kemanusiaan!

Tidak tentang konglomerat

menghisap pilar kehidupan rakyat.

Detik kelima bus kuning melaju

menghentak peperangan dengan debu dan deru

gedung-gedung menjadi saksi

rejeki leluhur

yang hendak dikebiri.

 

Semanggi. Diracun Polusi.