Halaman Pertama

·

·

Hampir dua tahun saya pindah ke Jakarta, berada di antara dua ketegangan yang memiliki wilayah kerjanya masing-masing, yang keduanya saling memperebutkan untuk ingin didengar. Ketegangan pertama, adalah mereka yang percaya bahwa bekerja di dalam sistem dapat membawa perubahan yang tepat terhadap sasaran. Mempercayai hal semacam itu, di satu sisi,membawa tubuh kita terhadap satu tabiat yang enggan untuk turun ke lapangan, enggan untuk menciptakan politik kebahasaannya sendiri dan celakanya larut dalam idiom-idiom yang mengharuskan tubuhnya mengkhianati narasi kesejarahan yang telah mendidiknya selama berpuluh-puluh tahun.

Ketegangan kedua, adalah mereka yang memilih untuk berjalan di ruang yang subtil untuk membangun kembali puing-puing kebahasaan yang mungkin masih bisa diselamatkan. Tentang bagaimana mendudukkan kembali posisinya di tengah-tengah tabiat anak sekolahan dan pengurus negara yang buta terhadap dimensi krisis sosial-lingkungan. Ketegangan yang kedua ini, saya posisikan sebagai sosok yang”sinkron” di mana tubuh personal dan tubuh sosialnya serupa dengan lekatnya darah dan daging. Namun, tanpa mereka sadari, ketegangan kedua ini hanya bergulat pada area jejaring sosial yang sama, yang meniadakan kepercayaan bahwa pikiran kemanusiaan tidak se-dikotomistik yang mereka ancang-ancang selama ini. Bahwa A tidak akan selalu menjadi A, A adalah A+ (simbolik) yang tersusun atas A, B, C hingga Z yang otoritas pikirannya dipengaruhi oleh konteks atau situasi seperti apa A,B, C hingga Z itu diperlukan untuk hadir. Artinya, memperluas jejaring sosial itu penting dalam rangka memperluas arena pewacanaan sehingga tidak beroperasi hanya di jejaringan orang-orang yang sama (A+)

Lalu, apa pentingnya membahas suatu hal yang dikotomistik semacam ini?

Partikularitas sejatinya tidak akan bisa terelakkan, begitu juga bagaimana kesombongan individual menyingkirkan kita untuk berupaya membaca hal yang lebih besar lagi, yaitu tentang cakra universalitas yang memayungi sistem yang sedang berjalan. Sistem yang sistemik ini tidak hanya melihat pada bentang horizontal, melainkan juga bentang secara vertikal. Horizontal dapat saya katakan pada proses perubahan ruang-keberwaktuan yang tidak linear saja, melainkan terpencar-pencar, jamak dan kompleks. Bentang vertikal menyoal narasi tentang pewarisan yang meng-ada merasuki tubuh genealogis maupun ideologis yang mengaliri semangat suatu gerakan tetap hidup dan berjalan. Maka, Universitalitas ialah strategi untuk menyelinap di antara patahan dan pertemuan antara yang horizontal dan yang vertikal.