Di antara penumpang kereta,
Memoriku tertembak ke layar kaca.
Puing-puing berlari, pada lekukan tangis dan tawamu.
Pernah kau berujar di depan kedua mataku, “Tidak ada yang menyaingi kecantikanmu. Sekalipun itu rembulan”
Aku pikir, kata-katamu adalah ilusi yang tidak akan termaafkan oleh siapapun anak-anak muda yang memuja nama besarmu. Tapi, di malam itu,
Raut parasmu menggulirkan senyum dan denyut nadi yang melangkah berderap terburu-buru, menciumku.
“You’re so special.”
“Thank you. But I thought I was just like people in general”
“No. I don’t think so. I feel you. I believe on you”
Satu hal yang kemudian muncul di dalam benakku, “kenapa, kenapa engkau begitu menginginkanku?”
Pandemi sudah berlalu selama lebih dari 2 tahun. Subliminal antara rentang usia kami yang terpaut jauh, koneksi batin yang tidak akan mudah orang normal bisa percaya, masih terus membekas di layar kacaku.
“Engkau adalah separuh dari diriku di masa lalu. Mungkin leluhur kita bersaudara. Atau mungkin, ingin bersatu sebagai seorang pasangan namun tidak dimungkinkan oleh zamannya”
Aku tidak meyakini ini sebagai sebuah kebenaran. Namun visual yang tertangkap di layar kaca ini mengingatkanku pada satu hal, bahwa:
Engkau adalah lelaki yang berhasil menyentuh relung kalbuku, mengikat seluruh api semangatku, dan membiarkan udara dan doa mengitari setiap perjalanan yang sadar dan tidak sadarku.