Riuk redam jalanan
Di antara duka dan selasar surga serapan
Tanjung menggeliat pelan
Menggagahi ibuku, Bumi.
Menyiasati kedermawanan, Pertiwi.
Perluasan dosa memangsa setiap kelapa,
Dikebiri hingga mati, dikutuk senja, dikuliti hingga
Darah dan dagingnya tak lagi terberi
Layangkan senjata di atas kepala rakyat nan perkasa
Mengibuli mata-mata yang tak pernah ingin berhenti bertanya
Tanah ini punya siapa?
Langit-langit yang nakal,
Bersikap sombing di depan Bumi dan ajal
Mengais kotoran di celah-celah kapital,
Korporat itu bangsat, jangan sesekali
Kau berdandannya layaknya seorang mlarat, nurani.
Leave a Reply