Menjadi Dewasa adalah Menyebalkan

·

·

Kerap orang bilang, bahwa menjadi dewasa menyebalkan dikarenakan adanya “tanggungjawab” yang mesti dia emban. Entah tanggungjawab secara sosial, moral, politik, dan lain-lain. To be honest, saya tidak pernah terbesit sedikit pun terhadap anggapan tersebut. Menjadi dewasa menyebalkan karena adanya kehati-hatian yang mesti kita pikirkan sebelum bertindak. Hal ini tidak ada kaitannya samasekali dengan tanggungjawab seperti yang saya maksud di awal, melainkan berkurangnya keberanian untuk melampaui sekat yang ada di sekeliling kita, termasuk prediksi konsekuensi di masa depan yang sebenarnya tak ada bedanya dengan prediksi kapan badai datang, seburuk apa badai akan menerjang kehidupan makhluk di bumi.

Berbeda di kala kita masih anak-anak. Kita tentu tanpa pikir panjang mencubit teman sebaya jika dia mengambil mainan atau makanan yang kita miliki. Atau, contoh ekstrimnya, kita bisa pipis di mana pun kita mau. Dengan kata lain, kondisi sosial kita memaafkan—sekaligus memaklumi—apabila kita melakukan sesuatu yang samasekali di luar nalar kernormalan (orang-orang pada umumnya). Menjadi dewasa mengenalkan kita dengan rasa malu yang menuntut kita untuk berhati-hati dalam segala kondisi. Lalu, kenapa sikap kehati-hatian tersebut sangat lah menyebalkan?

Turn you into: passivity

Pandemi menyadarkan saya banyak hal; salah satunya adalah pentingnya waktu. Bukan tentang urusan kapan kita tiba-tiba meninggal dikarenakan kovid, melainkan dalam 1 menit, ada hal yang bisa kita pelajari seperti membaca 1 paragraf sebuah jurnal. Sekali waktu, saya pernah menguji berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk membaca 1 chapter jurnal di kala pandemi. Dan hasilnya, hanya dalam waktu kurang 1 jam! Berbeda dengan kondisi sebelum pandemi, 1 chapter jurnal baru bisa saya habiskan dalam waktu full 1 hari. Hal ini dikarenakan distraksi pekerjaan di kantor (baca: suara keras dari teman kantor yang seolah-olah semua orang harus tau tentang masalah yang dia miliki. Tidak sehat memang, but thanks to my purple earbuds!) Dan dari eksperimen tersebut, baru lah saya mengutuk diri sendiri, 4 tahun bekerja di Jakarta hanya membuat saya tidak menghasilkan apa-apa, selain—passivity. Suatu kondisi di mana kita harus hadir—fisik dan kesadaran—untuk melayani apa yang sedang ada di hadapanmu, baik secara langsung maupun bangunan definisi yang melekat terhadapmu. Passivity mengganggu dan merampok waktu-waktu kecil yang kau miliki.

Kehati-hatian menyebalkan dikarenakan turut menanamkan passivity ke dalam alam bawah sadar, mengubahnya menjadi rasa takut, dan efek ekstrimnya adalah merasa tidak berdaya dalam hidup. Seolah-olah kehidupan telah kejam terhadapnya. Kehati-hatian membuat kita tidak sadar bahwa ada waktu-waktu kecil yang bisa kita ciptakan ketika: memutus rantai distraksi—yang saya namakan sebagai distraksi spektalia, yaitu hasrat untuk tampil di sosial-media, termasuk whatsapp.  Distraksi spektalia ini baru menjadi riil ketika kita liat dalam laporan penggunaan aplikasi yang bisa kita lihat dengan mudah melalui aplikasi tertentu. Dan ketika pertama kali saya membuktikannya, betapa jahatnya bahwa dalam sehari 3 jam waktu terbuang hanya untuk melihat whatsapp! And that’s a disaster for me. Dalam 3 jam, mestinya saya bisa membaca 3 buah jurnal setiap harinya. Bodohnya lagi, dengan ritme kerja yang tidak begitu dituntut untuk aktif “bersosial” di whatsapp, mestinya hal ini semakin menjadi tamparan yang—sangat lah keras.

Menjadi Gamang

Jika passivity adalah pekara dirampoknya waktu (+energi) yang dimiliki, menjadi gamang adalah efek lanjutan dari sikap kehati-hatian yang menyebalkan ini. Tidak banyak orang-orang di sekeliling saya yang berada dalam posisi ini, terjebak dalam kondisi yang merugikan dirinya sendiri, dan celakanya: seolah-olah mereka tidak memiliki opsi lain untuk bertindak. Entah bertindak dalam hal menyampaikan apa yang sedang dikeluhkan, atau memilih untuk berhenti. Hidup, terlihat kejam dan telah menganiaya keceriaan yang mereka miliki. Kegamangan membuat matinya keberanian si subjek untuk menentukan pilihan, padahal, jika benar menjadi dewasa memiliki segala macam cara untuk bersiasat, mestinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan di sini lah fantasi “tanggungjawab” menjadi pamungkas dan beroperasi mengelabui alam bawah sadar. Fantasi yang tak ada ubahnya seperti takhayul.

Kegamangan hanya bisa diredakan dengan obat tidur, dan tiap orang orang berbeda-beda terkait obat tidur jenis apa yang mereka perlukan, dengan dosis yang tentunya berbeda juga. Ada sebagian dari mereka yang membutuhkan fantasi, seperti nonton film dan/atau yutub, bermain sosial-media, belanja, dan lain sebagainya. Ada pula yang membutuhkan bantuan obat tidur betulan. Semua hal tersebut dilakukan hanya untuk menghabiskan waktu—dan memaklumkan apa yang sudah berlalu, membuat mereka pura-pura lupa. Tidak ada yang benar-benar sedang mereka sembuhkan, hapuskan, selain membuat kegamangan tersebut menjadi dormant.

Dormant dengan kata lain, tidak lah mati. Kegamangan akan selalu berada di dalam alam bawah sadar, dan akan kambuh Ketika ia disuntik ingatan yang diperantarai oleh moment-moment sensorial, dari pendengaran, pengelihatan maupun penciuman. Hal ini yang menyebabkan mereka akan dengan mudah menangis tiba-tiba dan kasus ekstrimnya sampai pingsan, kehilangan berat badan dalam waktu singkat, keringat dingin di kala sedang bekerja, atau depresi.

***

Tulisan ini saya buat dalam rangka mendokumentasikan pengamatan saya terhadap orang-orang di sekeliling saya (baik secara fisik maupun digital) yang sedang berada dalam fase, sebagaimana dikatakan orang kebanyakan, dewasa. Betapapun kata kehati-harian sounds morally positive, sesuatu yang tidak kita sadari telah merampok waktu-waktu kecil yang bermakna tetap lah tidak baik. Kenapa? Karena tidak ada yang benar-benar kita hasilkan, selain harta, tahta dan rumah tangga (buat mereka sudah sudah menikah, atau bermimpi untuk menikah). Dan ketiga hal tersebut adalah apa yang disebut Pram sebagai urusan daging.