Your’re the truth not I.
Remote-remote angkasa membawaku ke sudut waktu
Bernama purnama. Mengitari setengah dari ruang
Pijaki langit, berwarna jingga.
Daun berkerumun di bawah bantal-bantal udara
Mencandaiku dengan kata. Yang banal
Dan sia-sia.
Pelukmu berangsur jatuh,
Sekelumit raga yang beralih jauh.
Aku berdoa. Pada usia yang tak lagi tumbuh, notasi membiarkannya percuma.
Tanganmu mengendapkan relung, peluh asa di penghujung Timur. Hidupmu tidak sia-sia.
Pukul 00.00, seorang anak berkelakar tentang kejinya dunia.
“Aku dipaksa melacurkan tubuhku pada sebuah riwayat yang bertentangan dengan darah leluhurku,” Ucapnya.
“Bagaimana kamu bisa melakukannya?” Kata dan ragaku beralih ke dunia yang nyata-dan-maya hanya lah sebuah perdebatan dalam kertas kosong, hanya menunggu mati di bawah kebiadaban teknik digital.
“Aku, adalah bagian dari percakapanmu yang belum sempat terselesaikan. Aku melakukan atas apa yang telah kamu tuliskan.”
Pukul 01.00, dokumen itu menghampiriku.
Museum penghancur langit-langit tragedi
Kala misteri hanya sepenggal panjang jemari
Ku rawat engkau hingga dewasa, tua,
dibekukan sejarah. berserak di atap rumah para akademisi.
Alur menanti hingga tiada,
Membuatmu abadi dalam substansi orang-orang bicara. Para perupa
Pada kata yang tak bisa diadili,
Pada rupa yang tak bisa dihakimi.
Sajakmu tertinggal. Bersama tetumpukan revolusi
Jerami. Di Angkasa.