Tidak ada yang perlu disesalkan dari sebuah pilihan untuk berjarak dari seseorang yang kita benci. Sebab, dengan sikap tersebut, saya bisa belajar bahwa tidak semua orang bisa kita kenali ataupun kita sepakati, dan ada (memang) orang-orang yang secara keseluruhan tidak perlu disentuh samasekali. Atau, orang-orang yang saya kategorikan ke lingkaran “merah.” Ketika kita tengah memutuskan untuk berdamai dengan sesuatu/seseorang, artinya kita mulai harus mempersiapkan berapa banyak waktu yang kemudian terenggut, serta kata-kata sia-sia yang hanya berlalu seperti udara. Aku percaya hidup adalah soal pilihan di mana pilihan tersebut mencerminkan siapa diri kita, tentang apa juga yang hendak kita siapkan suatu hari nanti.
Siang ini aku tiba di sebuah kota dengan kilatan cahaya merah, yang konon, pertama kali dibangun oleh seorang pelarian dari China pada masa kolonial Belanda. Ku dengar dari beberapa leluhurku, bahwa masa kolonial adalah masa paling buruk dalam sepanjang sejarah umat manusia. Keadilan yang hanya berharga sebiji jagung, dan kemerdekaan yang tak lebih dari seliter beras. Tidak ada sekolah pada masa itu, yang ada hanya lah kepercayaan bahwa upeti dapat mendatangkan kebahagiaan, seperti hasrat kebinatangan kita yang mudah terlampiaskan lewat pusat-pusat perjudian, perselingkuhan antara majikan dan gundiknya, yang kemudian melahirkan seorang turunan yang acapkali menjadi biduan di antara teman-teman kakekku.
Kota ini kini bermandikan emas, dengan pusat-pusat grosir tekstil yang menguasai pasar dua negara sekaligus. Tak bisa dipungkiri, leluhurku pun kerap menadah benda-benda yang sukar untuk ditemukan di kala krisis 98 yang menjadikannya kini kaya raya pada awal tahun 2000-an. Tak lebih dari tiga jam dari pusat provinsi, ku amati para penduduknya bermata sipit, tak banyak yang menanggalkan senyum namun tak jarang dari mereka yang menatapku dengan penuh curiga. Atau, aku sendiri yang menyimpan kecurigaanku terhadap mereka? Sekaligus aku sendiri yang diam-diam menciptakan kepercayaan bahwa kebaikan—yang terlukiskan lewat senyum milik para penduduk depan mataku—adalah sesuatu yang universal?
Ku baca lagi pada paragraf kedua tentang sebuah penjelasan bagaimana kota ini terbentuk. Secara garis besar, si pelarian ini sering dibantu oleh Belanda. Rezim yang seringkali digambarkan buruk oleh para leluhurku. Rumah megahnya pun tak luput dari bantuan belanda, yang tepat dibangun pada wal abad 19. Rumah ini tak jauh beda dengan rumah betang yang dihuni oleh satu keluarga dan para keturunannya. Hingga kini, di rumah tersebut dihuni oleh keturunan keempat hinggal ketujuh yang setiap turunan memiliki pintunya masing-masing. Bedanya, rumah ini dilengkapi dengan altar peribadatan di mana si pelarian mencoba mengingat kepercayaannya kala masih tinggal di kampung di China. Rumah betang, anggotanya perlu ke gereja untuk menyembah sosok yang mereka percayai.
Kota dengan kilatan merah yang mengingatkanku tentang perjamuan makanku dengan seorang pemuka agama dari wilayah Timur Bhumi yang mewejangiku bahwa kebahagian adalah sebuah pangkal yag hakiki. Kebahagiaan yang hanya bisa direalisasikan dengan ketentramanan pikiran dengan mendoakan kebahagiaan bagi mereka yang kita benci. Yang percaya bahwa karma bisa dicegah selama kita sadar bahwa “jika tidak ingin disakiti oleh orang lain, maka jangan pernah menyakiti orang lain.” Kesadaran yang pra- kesadaran itu sendiri, bukan kesadaran yang menjadi-sadar atas perbuatan yang kita lakukan secara tidak sadar di masa lalu. Lagi-lagi, pagi ini aku belajar bahwa sebaik-baiknya mereka yang lupa adalah paling baik bagi mereka yang selalu mengingat dan berhati-hati.