Persimpangan

·

·

Bigot-bigot meracuni udara dan tanahku

Tanpa tanya, tanpa cela, tanpa jawabmu.

Selfish, narsis, tanpa iba kau mengekang darah dan Ibumu.

Diam-diam aku bertanya kepadamu, untuk apa disiapkan waktu?

Sembilan dari sepuluh orang mengeluh

Akar kehidupan dan batang harapan  kian merapuh

Nihil, tak lagi tersentuh,

Tak juga sembuh.

Angkuh.

Orang-orang kerap membanggakan setiap pencapaian yang konon patut untuk dipamerkan. Dari paras yang tak lagi jerawatan, kritisisme yang katanya mewakili semangat zaman, dari pengalaman berpetualang ke negeri antah-berantah yang digadang membawa kebaikan bernama pembangunan. Aku melihat hanya sedikit orang yang gemar mempertanyakan kembali, kebenaran-kebenaran yang diagungkannya berulang kali. Untuk apa, untuk apa kau merapalnya berkali-kali?

Samudra lebih bijak dibanding pikiranmu.

Keberadaan tuk menabur modernitas semu.

Yang mengakar dikorbankan,

yang tahayul dibiarkan

tumbuh,

di persimpangan.