Bigot-bigot meracuni udara dan tanahku
Tanpa tanya, tanpa cela, tanpa jawabmu.
Selfish, narsis, tanpa iba kau mengekang darah dan Ibumu.
Diam-diam aku bertanya kepadamu, untuk apa disiapkan waktu?
Sembilan dari sepuluh orang mengeluh
Akar kehidupan dan batang harapan kian merapuh
Nihil, tak lagi tersentuh,
Tak juga sembuh.
Angkuh.
Orang-orang kerap membanggakan setiap pencapaian yang konon patut untuk dipamerkan. Dari paras yang tak lagi jerawatan, kritisisme yang katanya mewakili semangat zaman, dari pengalaman berpetualang ke negeri antah-berantah yang digadang membawa kebaikan bernama pembangunan. Aku melihat hanya sedikit orang yang gemar mempertanyakan kembali, kebenaran-kebenaran yang diagungkannya berulang kali. Untuk apa, untuk apa kau merapalnya berkali-kali?
Samudra lebih bijak dibanding pikiranmu.
Keberadaan tuk menabur modernitas semu.
Yang mengakar dikorbankan,
yang tahayul dibiarkan
tumbuh,
di persimpangan.