Sungguh memuakkan dengan apa yang bernama “tuntutan” zaman. Tuntutan—menurut saya—adalah sebuah kebutuhan semu, kita ingin meraih sesuatu dengan tanpa alasan. Sekadar mengikuti apa yang mainstream, agak tidak “kalah” dengan yang lain. Ya, saya sangat muak ketika seseorang menuntut orang lain begini, begitu. Padahal, saya samasekali tidak pernah menuntut mereka untuk melakukan apa yang saya inginkan. Persetan dengan orang lain, karena bagi saya : orang lain adalah setan. Dan sebenar-benarnya “orang” dalam kehidupan saya adalah setan itu sendiri. Sesuatu yang dianggap orang lain “setan” justru menjadi sosok kawan yang baik, tidak beringas seperti orang-orang yang ada di sekeliling saya sehari-hari.
Entahlah, saya melihat sebuah kegilaan sebagai sesuatu yang beradab, sedang sesuatu yang beradab dianggap sesuatu yang “gila”, dan “tolol”. Masyarakat [kita] yang terbelah; dipecah-belah oleh kegilaan yang diciptakan oleh imajinasi tiap-tiap individu yang bergumul, dan berkumpul. Ada kah kesempatan kita untuk menyangkalnya? Menghindar, melawan, atau memperlambat perubahan? Apa kah perubahan memungkinkan untuk diperlambat? Atau, perubahan adalah efek dari intensitas kecepatan manusia dalam berlogika, sekaligus berpikir? Apa itu perubahan? Dan kenapa perubahan menjadi semacam kesepakatan bersama dan harus diikuti? Bukan kah dengan atau tanpa mengikut perubahan yang ada, seseorang pasti berubah? Kata “Mengikuti Perubahan” terdengar ngeri dalam pendengaran saya, mencabik-cabik pikiran dan membuat tubuh merinding.
Pagi ini, saya memilih untuk menginstall Line, atau sebuah aplikasi chatting yang cabe-cabean itu. Saya katakan cabe-cabean karena fitur aplikasinya yang penuh dengan warna-warna cerah, berikon “boneka” yang sok-kecentilan, dan multi-emotikon yang genit-genit basah. Pilihan tersebut saya ambil karena permintaan Dosen Pembimbing Skripsi, beliau membutuhkan aplikasi untuk bisa berdiskusi secara panjang-lebar. Karena DPS saya merelakan diri untuk menginstall Line, saya pun mengikuti beliau. Itung-itung menghargai beliau yang sudah menginstall Line demi mendiskusikan keberlanjutan skripsi saya.
Siang hari, untuk mengisi waktu luang, saya mencoba otak-atik aplikasi yang aneh itu. Sembari mencari cara untuk mempeketat privasi, dari orang lain yang tidak mudah untuk menambahkan saya sebagai teman, atau mudah untuk mengirim pesan tanpa berteman terlebih dahulu. Pada bagian timeline, saya mendapati sebuah status tentang Tuhan, Manusia, dan sosok manusia yang menuhankan ke-diri-annya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah, bagaimana “Tuhan” mencoba di-logika-kan dengan nalar-pikir manusia. Entah logika tersebut ditujukan untuk menyerang sosok manusia yang menuhankan dirinya sendiri, untuk membuktikan bahwa Tuhan lah yang disembah dan sosok manusia itu tidak, untuk meyakinkan orang lain bahwa Tuhan adalah Maha Tahu dan Manusia hanya lah merasa tahu; saya benar-benar tidak peduli. Di titik ini, siapa kah yang merasa lebih tau dibandingkan-Nya yang Maha Tahu itu? Merasa tahu bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, dan yang merasa tahu (sosok yang menuhankan diri) adalah orang yang tidak tau dibandingkan dirinya yang merasa tahu.
Jika Tuhan Maha Tahu, untuk apa membahas Sesuatu yang Maha Tahu tersebut? Tuhan bukan sesuatu yang “pantas” untuk dibahas, karena kita lah yang tidak akan pernah pantas untuk membahas Tuhan, karena sisi ke-Maha-Tahu-an yang dimiliki oleh Tuhan telah melampaui pengetahuan manusia itu sendiri. Tentang manusia yang kemudian menuhankan dirinya adalah Tuhan yang berhak untuk menghukumnya. Karena, sekali lagi, Tuhan Maha Menguasai. Jika kemudian kita “menghakimi” orang tersebut—orang yang menuhankan dirinya berarti tidak layak disembah—berarti kita telah menjadi Tuhan atas nya. Saya sepakat dengan Nietzsche bahwa Tuhan telah Mati sejauh nalar-pikiran manusia mencoba menggantikan sisi ke-Maha-Tahu-an yang dimiliki oleh Tuhan.
Hal kedua yang saya pikirkan adalah, bagaimana ruang (semacam Line) mempermudah seseorang untuk meluapkan pikiran yang masih terbata-bata, terpotong-potong, dan melahirkan satu rezim ingatan pendek. Betapa besarnya suatu persoalan bisa disederhanakan dengan beberapa kalimat pendek. Zaman dahulu kala, jika orang ingin membahas sesuatu, pasti ia mencari dengan dalam (dan detail), sampai ia menghasilkan sebuah buku. Tidak nanggung-nanggung, orang tersebut riset dari beratus-ratus literatur sebelum berani menghasilkan satu kesimpulan. Usaha yang sedemikian tangguh pun, masih bisa dibantai dari berbagai macam orang yang tidak sepakat dengan penemuannya. Lihat lah dengan apa yang terjadi hari ini. Seseorang dengan mudahnya meluapkan pernyataannya tanpa melakukan pencarian yang mendalam. Apakah kamu sudah “mencari” sebelum mengeluarkan pernyataan? Dan mencari sejauh mana?
Tanpa disengaja, saya bertemu dengan orang yang saya lihat di dunia “maya” berjalan melintas begitu saja.
“Ah, apa. Katanya nggak mau pakai Line, ujung-ujungnya juga pakai”, tegur seseorang itu.
Dalam hati saya bergumam, kata siapa pilihan memakai Line adalah sebuah penghujung? Dan kenapa seseorang tersebut justru lebih mudah membuat pernyataan dibandingkan pertanyaan? Misalkan, “kenapa pakai Line? Katanya nggak mau pakai Line”. Bukan kah menanyai adalah sebuah perilaku yang paling memanusiakan orang lain? Bertanya berarti melibatkan orang lain untuk menjawab, dan proses “melibatkan” itu lah titik dari humanisasi yang paling tertinggi. Bagaimana dengan memberikan pernyataan? Ya, seseorang telah mereduksi sebuah peran, dimana pintu dialektika (tukar-menukar jawaban) telah tertutup oleh justifikasi tersirat yang terkandung dalam pernyataan tersebut.
***
Semakin kesini, saya semakin tidak mengerti kenapa seseorang lebih meluangkan waktunya untuk membuat pernyataan singkat, terbata-bata, dan cenderung latah. Menanggapi suatu kejadian dengan kesementaraan yang dangkal. Bukan menanggapi dengan membuat suatu kemenjadian yang bisa didiskusikan berulang-ulang, atau, tidak penuh kesementaraan. Salah satu kemungkinan yang bisa dilakukan adalah membuat pertanyaan yang membuat pikiran orang lain tergugah. Pernyataan adalah bahaya besar bagi kemanusiaan, yaitu menyederhanakan proses pencarian yang mendalam, dialektika antar manusia tertutup, tanpa ada satu pun usaha untuk menciptakan jalur dialektika yang lain.
Saya sadar betul bahwa perubahan bukan lah sesuatu yang bisa dan harus disangkal. Ia adalah sebuah proses ke-menjadi-an yang berulang-ulang terjadi. Dengan atau tanpa mengikuti perubahan, ia selalu ada di sekitar kita. Dalam hal ini, apa yang saya maksud sebagai “mengikut perubahan” adalah suatu konstruksi; kita mengikuti perubahan ala siapa? Jika saya orang Indonesia, tentu memaknai perubahan adalah dengan memakai whatsapp, Line, Path, Instagram, Snapchat, Facebook, Twitter, Tumblr, Blackberry, dan lain-lain. Bagaimana dengan orang Jerman? Di Jerman, hanya sekitar 2% dari jumlah penduduk yang memakai aplikasi chat tersebut. Itu pun, mereka hanya menggunakan Whatsapp tanpa aplikasi lain yang aneh-aneh itu.
Terkadang saya berpikir bahwa keberagaman yang ada di Indonesia bisa dimanfaatkan untuk meng-counter balik posisi dari konsumen (aplikasi chat) menjadi produsen baru (bisnis online lewat instagram). Tapi, pada kenyataannya, kita tidak benar-benar menguasai modal produksi tersebut. Barang yang kita jual masih saja mengikuti trend luar, tanpa memanfaatkannya untuk menjual barang-barang buatan dalam negeri. Pada akhirnya kita hanya jatuh menjadi distributor dan bukan penguasa modal yang berdaulat.
Dari keseluruhan peristiwa yang saya alami hari ini, pilihan untuk mengikuti perubahan adalah suatu pilihan yang penuh kesementaraan. Pernyataan bukan lah sesuatu yang harus dilarang, tapi ia ada untuk dipertanyakan lagi. Di posisi ini, saya tentu memilih untuk tetap mencari, meskipun saya tau bahwa tidak ada jawaban yang paling final dan benar. Ingin sekali saya kembali ke masa empat tahun yang lalu. Ketika pukul 2 siang hingga pukul 2 malam saya berkutat dalam sebuah pencarian dengan batasan “perintah tidur” yang datang dari Ibu, bapak, atau kedua kakak saya. Ya, saya adalah subjek yang mengalami perubahan itu. Dan saya memilih untuk mengikuti perubahan dengan cara saya sendiri.