Alone Wolf

·

·

Suatu hari, seseorang pernah berkata kepada saya, “Kamu itu persis banget kayak a lonely wolf”

Usia saya tak lagi remaja, sudah 22 tahun, tak tahu kapan mati, setidaknya jika saya mati, saya ingin mati dan dikenang. Ketidakmampuan saya untuk memprediksi kapan kematian saya justru membawa saya pada pilihan hidup yang cenderung ekstrim..Saya memilih untuk menjadi sosok yang antagonist, pesimistik, dan tanpa ambisi. Bukan berarti saya ingin dibenci oleh orang lain, tidak punya mimpi, atau tidak berani berkompetisi, saya hanya ingin menikmati hidup dengan cara saya sendiri. Hidup bebas dengan batasan yang sudah saya tetapkan sendiri, bukan karena orang lain, bukan karena fantasi sosial yang diciptakan oleh kerumunan. Jika kemudian ada yang berkata bahwa saya seperti a lonely wolf, mungkin ada benarnya. Tapi tidak berarti juga bahwa saya tidak butuh orang lain, atau tidak butuh lingkungan sosial.

Renungan ini saya dapatkan sesaat setelah saya pulang KKN. Hampir 2 bulan saya berkutat dengan tim yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa orang asing masuk ke dalam sebuah wilayah baru tapi tidak “bersosial” dengan warga di wilayah baru itu? Tanpa ruang untuk saling mengevaluasi dan saling dukung? Is the real team? Ketidakmasukakalan kedua adalah tentang kondisi “rumah” yang pernah saya hidupi selama tiga tahun. Bagaimana bisa, sesuatu yang telah “gemilang” dengan melesat turun dan meredup. Ketika setiap kepala telah dihantui pikiran dan rasa tidak senang terhadap temannya sendiri, kemangkrakan yang justru dibiarkan, tak hendak disentuh, apalagi berusaha untuk diselesaikan. What kind of this shit? Rasio saya tidak bisa menjangkau segala kesakitan yang ada di depan saya saat itu.

Ketiga, perihal ketidakmasukakalan seorang wanita yang sedang menyukai seorang pria. Bagaimana bisa derajat dan martabat sebagai “wanita” justru diturunkan hingga titik tak bermartabat hanya untuk diperhatikan oleh sosok pria yang disukai? Mengobjektifikasikan sosoknya untuk dipilih, justru tidak mensubjektifikasikan tubuhnya untuk menjadi pemilih yang berdaulat. Bagaimana bisa, perempuan yang konon hingga hari ini masih ter-subordinasi, justru men-subordinasi-kan dirinya sendiri? Justru menjadikan dirinya sebagai objek yang minta untuk dipilih dan minta untuk diperhatikan? Seperti : kemana-mana minta dianterin sama lawan jenis yang disukai, makan mesti bareng, dan tidur pun harus satu ruang! What the fuck?! Sungguh, rasio kewanitaan saya tidak bisa menjangkau pemahaman terkait perilaku perempuan itu.

Peristiwa-peristiwa yang saya anggap tidak masuk akal dan keterbatasan jangkauan rasio justru mengantarkan saya ke dalam perdebatan yang cukup problematis. Beberapa pihak “membenarkan” karena sesuatu yang tidak masuk akal (itu) adalah hal-hal yang berbau dengan perasaan. Seperti, ketidakmasukakalan yang pertama (wajar terjadi) karena ada rasa sungkan-rasa takut-rasa pakewuh untuk bersosial dengan orang-orang sekitar, ketidakmasukakalan kedua wajar terjadi karena mereka tidak senang-kecewa dengan teman-temannya yang dianggap tidak bisa diajak kerjasama, ketidakmasukakalan yang ketiga sah-sah saja karena perempuan itu cinta-suka-tertarik dengan seorang pria. Perasaan seolah-olah diposisikan ke dalam suatu wilayah tertinggi dan akal (yang kotor) tak berhak untuk mencampuri urusan wilayah yang ilahiah itu. Jika demikian, saya pikir kehadiran “perasaan” justru mereduksi sebuah peran. Bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu yang melampaui dirinya pada saat terhinggapi perasaan (itu). Saya tidak berkata bahwa tidak ada perasaan di dunia ini, saya meyakini itu ada tapi tidak untuk mereduksi peran kita sebagai manusia yang berpikir dan bergerak.

Jika tidak ber-perasaan (dalam arti yang telah saya sebutkan di atas), seseorang bisa bercengkrama dengan orang lain, saling berbagi pengetahuan, suatu pekerjaan bisa selesai karena ditanggung bersama (tidak ada lagi yang mangkrak), pria yang disukai justru berbalik menjadi orang yang menyukai tanpa kita (sebagai perempuan) meminta dan mengemis. Karena, setau saya, pria yang “cerdas” justru menyukai wanita yang tangguh. Sebaliknya, jika pria tersebut “tidak cerdas”, otomatis wanita yang dicari adalah wanita yang tidak tangguh (dan mudah di-takhluk-kan) untuk membuktikan eksistensi bahwa dirinya “cerdas” (setidaknya dalam hal menakhlukkan hati seorang wanita). Saya pikir, hal yang sama juga berlaku pada wanita. Tentu, paramater cerdasnya seperti apa tergantung pada latar-belakang dan idealisasi konsep “pasangan” itu sendiri.

Apa yang ingin saya tekankan disini adalah : hati-hati terhadap klaim bahwa ketidakmasukakalan itu wajar terjadi karena berhubungan dengan “perasaan”. Pada kenyataannya, perasaan hanya mendidik kita untuk menjadi subjek yang passif. Sosok subjek, karena kita sedang mengenai sesuatu, yaitu hal-hal yang kita anggap sebagai “perasaan” (entah sedih karena melihat seseorang kelaparan, kesal karena seorang teman tidak menepati janji, atau marah karena dipukul). Akan tetapi, subjek yang tidak melakukan apa-apa karena kita sekadar “menyerap” sesuatu itu. Jika ingin menjadi subjek yang aktif, berpikir dan bergerak lah. Jika sedih melihat seseorang kelaparan, berpikirlah bagaimana caranya mendapatkan uang/makanan untuk memberinya makan. Jika kesal karena seseorang tidak menepati janji, berpikir lah apa yang harus dilakukan setelah itu. Dan jika marah karena dipukul, berpikir lah bagaimana caranya pukulan itu bisa “diterima” oleh akal kemanusiaan kita.

Dari segala proses perenungan saya selama ini, saya memilih untuk menjadi orang yang tidak ber-perasaan. Kecurigaan saya hanya satu : jangan-jangan “subjek yang passif” merupakan cita-cita yang diidam-idamkan oleh peradaban modern yang dimanifestasikan lewat perkembangan teknologi? Ketika seseorang terbiasa menyampaikan sesuatu lewat sebuah medium, yang di-perantarai, sehingga tidak terbiasa untuk berpikir dan menyampaikan sesuatu secara langsung? Dan, “perasaan” terbuang menjadi partikel abstrak yang tertunda untuk disampaikan dan dijauhkan dari sistem penilaian akal? Dengan demikian, saya hanya ingin menjadi subjek yang aktif dan tidak menerima kenyataan dengan begitu saja, tentu dengan cara yang telah saya konsepsikan sendiri. Jika kemudian ada yang melabeli saya sebagai sosok “a lonely wolf”, terima kasih. Bukan sesuatu yang hanya patut untuk saya rasai.