Renungan Pagi

·

·

Awal pagi yang pesimis, ditemani secangkir kopi dan alunan musik God Speed You! Black Emperor – Bleak Uncertain Beautiful.

Tidak seperti biasanya, kali ini saya ingin mendengar musik tanpa lirik. Sekalipun lirik Portishead tampak sayup dan hampir tidak terdengar, tetap saja huruf konsonannya berbunyi, getir. God Speed cukup menghibur di kala saya benar-benar merindukan kehadiran seseorang yang telah lama meniada dari dunia, dia Riyano Agung Pahlevi Tanjung. Jika dia masih hidup, saya pikir Anarkisme di Indonesia tidak mungkin “lemah” seperti hari ini. Lemah dalam artian tidak hanya ramai di dunia maya, melainkan di tataran grassroot benar-benar membangun swakelola bersama warga. Baru lah saya sadari juga, bahwa Ino merupakan pendiri sindikat Katalis, media otonom Anarkisme di Indonesia pada paruh 2008-2012. Di tengah capaiannya sudah membaca 580 buku (Anarkisme dan Marxisme) hingga usia 28 tahun, wajar saja jika Anarkisme (saat itu) benar-benar “hidup” dengan ideologi yang mapan dan matang.

Suatu hari, saya pernah bertanya kepadanya melalui percakapan telepon yang berjam-jam itu, “kamu udah baca berapa buku sih, mas? Heran deh kok kamu bener-bener tau segala hal.”

Jawabannya sederhana, “kuantitas itu nggak penting, Mbrang. Yang penting itu kamu paham atau tidak, kemudian berguna apa tidak. Ya kalau diitung-itung ada 580 buku. Tapi jangan liat kuantitasnya ya, karena sejauh ini menurutku itu kurang. Karena masih banyak hal yang harus aku pelajari.”

Di tengah usianya yang 28 tahun itu, Ino masih tetap terlihat semangat untuk mempelajari segala hal. Bagaimana dengan saya yang baru berusia 22 tahun ini? agaknya saya harus insyaf bahwa, benar kata Ino, masih banyak hal yang harus dipelajari. Jauh lebih banyak daripada kuantitas “jauh” yang dimiliki oleh Ino. Belum waktu luangnya yang mesti dibagi untuk anak laki-lakinya Rebelio. Tentu jumlah waktunya mesti terbagi-bagi berbeda dengan sewaktu ia masih muda dan merdeka. Ino, selalu menasehati saya dan tanpa bermaksud untuk menjadi bijak,

 “dunia ini sungguh chaos, Mbrang. Jangan jadi kayak aku, jadilah dirimu sendiri sekalipun itu berlawanan. Kamu itu tidak nakal, hanya saja berbeda dengan anak yang lain.”

Nasihat itu terucap di kala saya down secara psikologis. Bahkan, dia adalah orang yang pertama kali tau bahwa saya kerap ingin “bunuh diri.” Khususnya ketika saya tidak lagi mendapat tempat sandaran yang tepat dan kuat. Sebelum kenal Ino, sandaran saya adalah guru spiritual yang berprofesi sebagai guru SMP, beragama Syiwa-Buddha, dan konsisten dalam melestarikan kesenian tradisional Wayang Krucil dan Barongan asli Blora. Dari beliau, saya mengenal pertama kalinya konsep Liyan yang merupakan titik pijak awal untuk mempelajari Antropologi. Beliau juga lah yang mendidik saya untuk tetap tenang dan santun dalam segala hal, tak perlu mengejar ke-duniawi-an yang fana ini. “Rasa” yang “tenang” bisa dijangkau sejauh “batasan” itu diciptakan; tak akan ada rasa tenang tanpa batasan, dan tak akan ada “batasan tenang” tanpa adanya rasa. Keduanya saling berkait-kelindan tak ada yang menguasai ataupun dikuasai.

Memasuki tahun kedua di masa SMA, saya terlibat dalam sebuah komunitas bernama Anak Seribu Pulau. Sebuah komunitas seniman cum anak punk yang bergulat dengan issu-issu sosial-ekologis-seni-film-dokumenter. Dari sana lah, saya berkenalan dengan Riyano. Seorang laki-laki yang tubuhnya penuh dengan tatto, berkaca mata hitam dan tak pernah lepas dari buku. Sejak perkenalan itu, komunikasi dengannya tetap terjaga. Pada fase ini, saya belajar untuk “merasionalisasikan” segala macam kekacauan yang berada di depan mata saya saat itu.Baru saja saya sadari bahwa “rasionalitas” itu hadir sebagai bentuk “batasan” seperti yang pernah saya temui dimana saya masih “dididik” oleh sang Guru Spiritual. Lebih dari itu, rasionalitas tersebut yang mendorong saya untuk “bergerak” dan tidak berdiam diri di tengah masyarakat yang saling bertubrukan (secara vertikal). Batasan yang diajarkan guru spiritual lebih mendorong saya untuk terus menyelam ke dalam, mencari yang tak terjamah, untuk Njawani (mangerteni)Sangkan Paraning Dumadi. Istilah itu, sampai hari ini, tidak bisa saya artikulasikan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus mewadahi “pemaknaan” dari istilah itu sendiri. Jika dimisalkan, batasan bergerak secara horizontal tidak hanya ke arah-atas, tapi juga bergerak ke arah-bawah. Saya memposisikannya bukan sebagai dua hal yang berlawanan secara total, tapi bergerak secara dialektis dan relasional.

Baik rasionalitas secara vertikal maupun batasan secara horizontal, keduanya mengajarkan saya bahwa dunia ini sungguh “indah” dan penuh dengan daya pikat (seni dan ilmu pengetahuan). Ino menjelang kematiannya pernah berkata, “aku nggak mau menjadi bijak, jika kebijaksanaan justru membuat seseorang jauh dari masyarakat.” Perkataan tersebut menjawab pertanyaan saya terkait perkembangan Filsafat yang tengah terjadi di abad Renaissance. Ino sangat menolak dengan konsep kebijaksanaan yang selama ini diwacanakan oleh Filsafat. Dan dia lebih senang dianggap sebagai sosok Nihilis-Individualistik. Saya pikir pandangan tersebut lahir dari sosoknya yang rapuh dan pesimisme terhadap keadaan dunia yang tengah bergulir. Setidaknya, pesimisme yang mendekam dalam tubuhnya tidak hanya mandeg sebagai keluhan, umpatan, makian, tapi Ino bergerak dan mendirikan sindikat Katalis. Keyakinan saya hari ini hanya satu, jika Ino masih hidup sampai sekarang, mungkin dia akan dinobatkan (secara sosialkultural) sebagai bapak Anarkisme di Indonesia. Sebab, penggerak Anarkisme saat ini tidak bisa lepas dari jaringan yang telah dibangun Ino lewat sindikat buatannya.

Sayangnya, sepertinya Ino agak senang dengan hal ini, dia mati di umur yang relatif muda 29 tahun. Ino pernah berkata dia ingin sekali mati muda, bukan untuk menyamai patriortisme Soe Hok Gie, melainkan dunia ini terlalu chaos untuk dihuni. Sedangkan baginya, bunuh diri bukan lah cara yang “elegan” untuk mengakhiri suatu permasalahan. Kehidupannya yang selesai, permasalahannya tidak. 15 Januari 2013, Ino benar-benar meninggalkan saya, sendiri. Kami bertemu sekaligus berpisah di sebuah persimpangan yang menyejukkan. Tak ada lagi pertemuan kedua, Riyano pulang ke rumah-asalnya dan tak bisa dijamah oleh siapapun. Sekadar ingatan yang mampu menghadirkannya, lagi.