Tahun ini tak henti-hentinya saya mempertanyakan dimana rasionalitas kemanusiaan ala pemuda cum aktifis hari ini, juga menyangkal secara total kebenaran objektif atas sesuatu yang bersifat dualistik. Dan, proses kehidupan yang paling chaos sejak saya lahir di dunia 22 tahun yang lalu. “Ketakutan” bahwa setelah kematian Ino hidup saya menjadi tak wajar lagi, mulai menampakkan wujud aslinya. Jika antara tahun 2013 – 2016 masih ditopang dengan kegiatan di Balairung, tahun ini saya mutlak “berdiri sendiri”. Sialnya, saya mesti menghadapi sesuatu yang tidak pernah saya sukai (baca : kuliah dan skripsi).
Awal Januari, saya menghapus secara permanen semua akun sosialmedia, dari Facebook, Twitter, Instagram, berlanjut whatsapp, line, telegram yang kemudian saya hapus pada pertengahan bulan Mei. Akhir Mei, saya mengirim semua gadget komunikasi (dari 4 hp nokia jadul, ipod, iphone) ke kampung halaman di Blora. Awal bulan Oktober, menghapus blog pribadi yang telah saya hidupi selama 8 tahun! Alasan pertama kenapa saya cenderung “merusak” diri sendiri karena ketidakmampuan saya mengikuti segala perubahan yang tidak masuk akal. Kedua, saya melihat negara ini tak lebih dari pangsa konsumen, sedangkan peta mentalitas kita (pemuda) belum siap menerima segala “kegemilangan” itu. Saya harus jujur, setidaknya untuk diri saya sendiri, saya benar-benar tidak bisa menghadapi segala hingar-bingar dan keriuhan semu. Bukan kah sah-sah saja jika kita mengikuti perubahan dengan cara yang telah kita konsepsikan sendiri? Anggap saja mereka yang kerap berkomentar jargonistik “sok menentang arus”, “sok anti-mainstream”, “cari aman”, pada dasarnya kehidupan mereka cenderung melihat sesuatu dengan hitam dan putih, atau politik liyan-meliyankan.
Kenyataannya bahwa saya ini bukan lah siapa-siapa, dibandingkan cerita orang-orang aneh yang pernah saya temui. Sebut saja orang-orang semacam Ino, seorang anarkis yang jarang sekali mengonggong di sosialmedia, tapi basis teoritisnya tentang “anarkisme” tidak diperlu diragukan lagi. Bahkan 500an buku telah ia baca hinga ia tutup usia di umur 29 tahun.Di saat jubah besar aktifisme mudah saja ia dapatkan, ia tak ingin mengenakannya hanya untuk keterkenalan semu dan sesaat. Ino memilih sibuk di ruangannya sendiri, minum Abidin (anggur bir dingin) kesukaannya, membaca dan menerjemahkan teks-teks anarkisme, dan mengasuh anak laki-lakinya. Menjelang masa tutup usia, Ino pernah berpesan seperti ini, “Ini yang aku suka dari kamu, Mbrang. Selalu punya alasan untuk semangat berapi-api, tanpa harus didikte terlebih dahulu. Awas jangan sampai kebakaran, loh!” Kalimat terakhir (kebakaran) saya artikan sebagai pengingat “jangan sampai jadi sesosok manusia yang kolot dan menyebalkan”
Kedua pak Roem Topatimasang, sosok yang satu ini mungkin telah dikenal banyak orang karena hasil kerjanya di berbagai wilayah pelosok di Indonesia. Awalnya saya tidak tau siapa itu Pak Roem, saya pikir beliau hanya lah salah satu pengajar sekolah Involvement di INSIST. Setelah satu bulan lamanya saya magang disana, baru lah saya tau siapa pak Roem dan juga cerita tentang geliat aktifisme di Indonesia. Salah satu kenyataan yang paling mengejutkan saya adalah keberhasilan Pak Roem untuk memandirikan sebuah desa di Maluku. Ada satu wejangan dari beliau yang tidak akan pernah saya lupakan hingga saya mati, “perlawanan terbesar yang harus dihadapi seseorang adalah melawan dirinya sendiri”. Beliau melanjutkan perkataannya seperti ini, “kecukupan, keterkenalan, justru menjadi hal yang harus kita lawan. Dimana rasa cukup, dimana hasrat pengen terkenal? Ya ada di diri kita sendiri”
Di titik ini, saya tidak hendak menjadi Ino, tidak juga ingin menjadi Pak Roem. Saya hanya ingin meminjam ketekunan mereka dalam melakukan suatu hal yang mereka sukai. Keduanya pun menolak untuk terkenal dan tidak meminta dihormati semua orang. Penilaian terhadap mereka murni berangkat dari apa yang telah mereka kerjakan, bukan sesuatu yang mereka kerjakan untuk mendapat penilaian tertentu (keterkenalan, kecukupan misalnya). Orang-orang aneh seperti mereka lah yang mengingatkan saya bahwa hidup di dunia ini jangan lah dihabiskan dengan cara cuap-cuap di sosialmedia jargonistik a la aktifis forum, karena masih banyak hal yang harus dipelajari (seperti ketekunan Ino dalam menyelesaikan suatu teks) dan banyak hal yang harus dikerjakan (seperti ketekunan Pak Roem ketika bekerja bersama warga di daerah pelosok). Saya pun merasa insyaf bahwa ketika saya mengikuti arus, hidup saya hanya lah bermuara pada pusaran ketersia-siaan.
Eksperimen “perusakan diri” selama satu tahun ini, bisa saya katakan, berhasil 80%. Tidak sepenuhnya berhasil, karena ada beberapa hal yang luput. Seperti waktu saya untuk melamun dan berpikir secara kuantitias lebih banyak, akan tetapi tetap saja saya tidak bisa menyentuh sesuatu yang saya sukai. Kuliah 27 sks di semester awal tahun, juga KKN dengan tim sinting (karena ada orang tak tau diri seperti Abel, dan ketua bingungan seperti Rifki), dan skripsi yang harus saya selesaikan dalam waktu 2 bulan (November hingga awal Januari). Tahun ter-chaos. Saya harus mengisi “kekosongan” sebagai hasil perusakan diri (notabene pilihan yang saya inginkan dan butuhkan), akan tetapi saya mengisinya dengan cara mengerjakan hal-hal yang tidak pernah saya sukai. Tahun depan? Satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah melakukan penolakan terhadap kondisi saya yang ada di tahun ini.