Sepersekian detik laju ombak tak lagi bergenyit
lelantunan palung berdecak kagum
pandai meleleh di pusaran kaum ibu
lelah meletih di pangkuan bapak penghujung
Delima dangkal bersuara
rerantingan udara menguap di udara
menapaki setiap derita
bumi dan setan, iblis dan manusia.
Pusat pusat horizon termanifestasi di langit-langit kaca
membelah samudra yang tak berdaya dimakan polusi-polusi darah dan kotoran pabrik romansa
terhampar planet asing yang menghentak tubuh paus raksasa
Laksana benang di langit jingga
Pijar mengungguli bulan purnama
Dewa itu mitos, katanya.
sepersekian menit dikebiri laju media
sampah-sampah pikiran meracuni,
Kalbu seorang Ibu yang sejenak menghela sunyi.
Dan,
Api.
Jika ia tidak membakar, maka ia menghangatkan daki.
Menyapu pengharapan, yang dipupuk ketiak ekspektasi
Menerangi semua sisi
dari raga hingga usangnya mati
Sang api berkelana. Sendiri.
Jalan-jalan menyalak benci, menyeringai tajam minta dimaki.
Sunyi dan api,
merasai kehilangan serupa wujud nadir penghabisan
kekosongan spiritual
yang ingin diisi sejengkal perbedaan
generasi
ketidaksombongan kekaguman, dan selentingan gelar dan jubah kebesaran.
“Ini namanya hidup, Nak. Jika kau tidak hidup, jangan pernah merasa paling tau sendiri”
Leave a Reply