Tanpa banyak pikir, kami bertemu dalam agenda yang serba dadakan. Keterpisahan selama beberapa bulan belakang membuatku belajar bahwa pengertian adalah pangkal dari segala-galanya, penjelasan adalah cara bagaimana kesalahan bisa dipahami dan perlahan dimaafkan. Tampak dia berjalan dari sisi kiri kantor gedung tempatku bekerja, dia tersenyum sebagaimana biasanya, sedikit membungkukkan badan dan memberikan gestur romantikanya yang tidak ada satu pun pria bisa menyamainya. Sapaku pertama kali kepadanya, “Jahat!”
Dia hanya membalas perkataanku itu dengan senyum, lalu mengalihkan pembicaraan bahwa gedung kantorku sangat lah menyenangkan. “very important person.” Ucapnya.
“I don’t listen anything. Don’t listen anything. Jahat jahat jahat.” Saya gemas memang dengan apa yang dia perbuat selama beberapa bulan ke belakang. Saya dibuatnya menunggu dalam kegamangan, yang baru lah terjelaskan ketika percakapan hari itu selesai.
Tanpa pikir panjang, saya membawanya ke sebuah ruangan yang hanya 2-3 orang berlalu lalang. Kami bersembunyi di lorong yang panjang, sekadar untuk memastikan agar privasi kami tetap terjaga.
“Apa kabar, dear?” Pertanyaan ini mengawali perjumpaan kami berdua, yang meluluh-lantahkan segala egoismeku yang berlangsung selama ratusan hari.
“As you can see. I’m fine in some senses, but another sense is not.”
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud sedikitpun melukai perasaanmu. Sering aku bertanya dalam diriku sendiri, aku ini apa, aku ini siapa dalam hidupmu? Kadang aku merasa telah mengganggu kehidupanmu, tapi aku juga kerap merasa bahwa kita sangat dekat tanpa perlu ada penjelas apapun.”
Seperti biasa, dia mengusap pipiku dan berkata lirih, “Maaf, sayang.”
Selama satu jam pertemuan, jika boleh disimpulkan, bertema tentang kekesalan dan kepedulian. Dia kesal, resah, sekaligus terlampau peduli dengan rencana saya untuk sekolah.
“engkau ini ditawari ini, ditawari itu tapi tidak ada yang kau hiraukan samasekali. Adakalanya engkau harus berkata iya, and take it very fast.”
Banyak kutipan yang dibawa dari Karl Marx, Gabriel Marquez dan juga penagih dana-dana sumbangan di perayaan hari kemerdekaan.
“Zaman sekarang sudah pada gila-gilaan. Mati-matian gilanya. Percaya lah, dunia akan begini-begini saja jika kau tidak segera keluar dan bangun lah pertemanan yang sama-sama rela mencurahkan pikiran untuk hal-hal mengikat pertemanan kalian.”
“Don’t you believe with me?”
“Bukan, bukan seperti itu. Jika orang lain perlu 3 langkah untuk melakukan sesuatu, dalam pikiranku, kamu hanya perlu diyakinkan bahwa kamu bisa 5 langkah sekaligus. Please dear, do more than you think.”
Perkataannya membuat saya tersadar bahwa: ya, sudah lama rencana-rencana yang telah ku bangun tidak lagi ku buka, bahkan enggan ku tengok lagi. Tetapi ada seorang laki-laki, yang selalu datang dengan jiwanya yang membara, membakar semangat saya untuk belajar lagi dan lagi.
“Aku ingin menjadi teman terbaikmu. Jika kamu keluar (dari Indo), I will try with the best I could to be there.”
“Janji?”
“Ya enggak gitu dong balasannya. I will try…dan tentu aku akan mencobanya.”
Tubuh saya ditarik, didekap sangat erat hingga saya tersadar bahwa lelaki ini serius dengan segala tindakannya. Keseriusan yang sempat ku ragukan selama beberapa bulan belakang, yang ternyata masih membara hingga hari ini.
“Such interesting and happy day to meet you today. You look very beautiful. I miss you”
“Terima kasih”
Jelang beberapa detik terakhir, kedua tangannya memegang erat kedua pipiku. Mata kami beradu, Senyum terbaiknya melingkar tepat di atas bibirku.