Pernikahan

·

·

Emang apa sih yang kamu cari?

Jika saya berhadapan dengan seseorang yang mendapat keajaiban yang cukup untuk sekolah lebih tinggi, dan lagi belajar filsafat, tentu saya akan menjawabnya dengan: I was looking for…nothing. Terma ini sedikit banyak akan mudah dipahami bahwa “nothing” memiliki pemaknaan epistemologis sendiri, yang nothing adalah everything. Namun, kali ini, saya berhadapan dengan Yana, teman SMP yang memilih drop out dari sekolah dan menikah ketika usianya 16 tahun. Sudah hampir 11 tahun kami tidak bertemu, dan tentu saja, pertemuan tadi sore menjadi proses refleksi yang—cukup Panjang. Yana telah menunjukkan saya satu hal: bahwa pernikahan anak tidak melulu cerita tentang tragedi.

Menurut ukuran sosial dan ekonomi di desa, Yana telah mencapai posisi kelas menengah ke atas. Tangan, leher dan telinganya dihiasi emas yang berkilau, rumahnya terdiri dari 2 bagian (bagian depan dan belakang), dan 4 motornya berjejer rapi di depan. Yana dan suaminya telah bekerja dengan baik, dari bekerja masing-masing dan juga membuka usaha di rumahnya. Bagaimana pun, kenaikan kelas yang sekarang diperoleh Yana, merupakan sesuatu yang dia (dan suaminya) perjuangkan. Setidaknya demikian lah yang saya dengar dari tetangga sana-sini. Saat itu juga saya mengerti kenapa, meskipun menikah pada usia yang masih tergolong anak namun siap secara mental, dikarenakan keduanya 1). Orang “kampung”, dan 2). Sama-sama mengasihi.

Orang kampung yang dimaksud di sini adalah kekayaan atas rasa keberterimaan posisinya sebagai seorang manusia. Tanpa tanya, tanpa mengeluh, apalagi memaki. Yana, selama mengenalnya,adalah anak yang diam, rajin, sekolah sebagaimana mestinya, dan tidak mengeluh ketika harus ke sekolah menaiki sepeda selama 1 jam. Tentu ini berbeda jauh dengan anak-anak sekarang, apalagi di kampung saya sendiri, yang kemana-mana selalu menggunakan motor, bahkan diantar pakai mobil!  Tentu, kami pun sempat membahas perubahan ini. Keduanya saling mengasihi. Suaminya tidak lain adalah tetangganya sendiri, yang sudah jatuh hati sekian lama, dan ready to fight for the love.  Yana berjuang untuk menjadi pasangan yang baik ketika mereka berdua masih “pacaran,” begitu juga sebaliknya. Sehingga saya pun tidak heran jika mereka berdua memilih untuk menikah, dengan keyakinan sebagaimana mestinya bagi mereka untuk berpasangan.

“Kerja mulu, nikahnya kapan?”

Dan suaminya yang berada di sebelah turut menyumbang kerisihan yang sama, “Masa ghembrang belum nikah?”

Dan pada saatnya, pertanyaan itu pun tiba.

Melakukan pembelaan di depan Yana dan suaminya merupakan hal konyol. Pertama, saya akan terjebak bahwa anggapan mereka salah, dan otomatis akan berakhir dengan perdebatan yang panjang. Kedua, jikapun perdebatan itu terjadi, pengetahuan sekolahan yang ada di dalam otak saya ini, telah melupakan konteks relativisme kultural yang telah terbangun selama ratusan tahun lamanya.

Tentang Pernikahan

Tepat di sini lah, saya hendak menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang, baik dari dulu, sekarang, dan mengantisipasi pertanyaan yang akan datang.

Di lingkaran sosial, setidaknya ada beberapa mitos (pendapat komunal yang cenderung dilebih-lebihkan) bahwa orang yang belum/tidak menikah itu: (i) trauma terhadap masa lalu, (ii) standar pasangan terlalu ketinggian, (iii) terlalu mengejar karir, (iv) tidak mau diatur oleh pasangannya. Poin satu (i), meniadakan adanya keniscayaan perubahan (dan proses adaptasi) manusia terhadap situasi yang dihadapinya. Mitos ini menyangkal mutlak bahwa orang-orang yang belum/tidak menikah bukan lah orang yang tumbuh dan belajar. Penyangkalan ini, satu sisi telah mencemooh keberadaan proses-hidup yang telah dilalui oleh subjek tersebut (sehingga si subjek bisa bertahan hingga sekarang, jikalau “traumatik” itu benar adanya), dan di sisi lain, menganggap si subjek hidup hanya untuk masalalu. Betapapun peliknya, apa benar tidak ada yang si subjek perjuangkan? Minimal orang tuanya, mungkin?

Point (ii) berbicara soal standar, agaknya kita perlu bertanya terlebih dahulu. Standar menurut siapa, dan ketinggian dilihat dari mana? Dari pertanyaan ini, tentunya kita bisa belajar bahwa standar selalu bersifat bias dan relatif. Dengan kata lain, ada orang-orang yang memang menetapkan standar-standar khusus, namun ada juga yang tidak. Ada yang menetapkan minimal A, namun ada juga menetapkan standar B. Pelapisan-pelapisan ini laiknya benang kusut yang tidak ada satupun orang yang bisa menilai dari luar. Yang sebenar-benarnya tau, adalah si subjek itu sendiri.

Poin (iii) ini tidak lah lebih menyebalkan. Mitos “terlalu mengejar karir” sama dengan mengandaikan bahwa perempuan (yang belum/tidak menikah) adalah buruh yang bekerja tanpa henti. Mitos ini melupakan adanya dunia lain (kontribusi sosial misalnya) yang juga dihidupi oleh si subjek tersebut. Misalnya, aktif dalam kegiatan kebudayaan, berkontribusi sebagai relawan sosial di komunitas-komunitas kecil, berorganisasi dan lain sebagainya. One thing, realitas tidak lah tunggal dan contoh ini tengah menjadi mainstream.

Berikutnya, poin (iv) tidak mau diatur oleh pasangannya. Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah: sejak kapan pernikahan menjadi seperti polisi yang berkewajiban untuk mengatur jalannya kemerdekaan untuk berpikir dan bertindak? Berikutnya, sejak kapan bahwa pernikahan bermakna harus tunduk terhadap pasangannya? Berikutnya lagi, mitos ini memposisikan subjek yang belum/tidak menikah sebagai sosok yang banal, brutal, dan tak ubahnya dengan sosok yang selalu melakukan perbuatan kriminal. Benarkah demikian? Once again, realitas tidak lah tunggal!

Pernikahan adalah sebuah pilihan, dan sebuah pilihan adalah (selalu) bersifat situasional. Sebab, satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah kesementaraan, adalah ketidak-abadian.

Jika suatu hari malaikat menghampiri dan meminta saya untuk memilih tetap hidup tapi harus menikah atau mati, saya akan memilih: mati.

Satu-satunya prinsip yang saya pegang hingga sekarang ialah: hidup tidak lah kekal. Satu sisi kita harus menerima jika orang-orang di sekeliling kita pergi, begitu pun tubuh yang sekarang sedang saya gerakkan untuk menulis. Untuk mencapai titik ini, tidak saya lalui dengan cara yang instan (apalagi mudah). Kematian Ino menyadarkan saya bahwa kepergian adalah sesuatu yang menyakitkan, dan bahkan saya sampai “gila” selama bertahun-tahun! Proses penyembuhan yang lama dan melelahkan, menghisap sekaligus menenggelamkan. Saya tidak hendak bilang bahwa saya hanya mencintai Ino forever to die. Actually, that’s not! I do sometimes to have another try with men, and to be sure I enjoy all the moments we had.

Akan tetapi, selalu ada cermin retak yang menghadang di depan.

“Keretakan” ini lah yang mendorong saya pada sebuah pilihan bahwa pernikahan bukan lah sesuatu yang esensial, setara dengan harta, dan setara dengan tahta. Saya hanya ingin menghabiskan waktu yang tidak kekal ini untuk belajar mengeja—dalam rangka membaca dan juga menulis.