#1

·

·

Saya akui, saya dendam dengan satu nama. Saya pun tidak peduli dengan dalil moral bahwa dendam itu tidak baik. Dendam itu sah, sejauh kita tidak merealisasikannya ke dalam bentuk penganiayaan fisik. Akui saja jika memang kamu dendam, setidaknya kamu telah berbuat jujur.

Orang-orang yang mengenal saya dengan baik, tentu mengerti bahwa saya amat sulit membenci orang. Semua orang itu guru, demikianlah tesis saya terhadap kehidupan itu sendiri, akan tetapi tidak untuk sekarang. Ada beberapa alasan kenapa semua orang tidak layak dijadikan “guru” lagi, sejauh mulut mereka lebih nyinyir ketimbang bergulat dengan isi otaknya. Ketika rasio tidak lagi menggunakan logika, tapi mengutamakan argumentasi hanya untuk canda dan tawa.

Memang benar bahwa diam itu lebih baik. Sungguh receh sekali ketika menilai seseorang hanya berangkat dari sepenggal gosip, apalagi ditarik kembali dengan alasan : hanya bercanda. Kita hidup di mana kebutuhan untuk nyinyir lebih mendahului daripada kehendak kita untuk berpikir. Di mana hasrat kita untuk mencari sensasi lebih mendominasi dibanding mencari asupan untuk kinerja otak. Sangat disayangkan justru yang melakukan hal tersebut adalah golongan yang mendaku dirinya berilmu, karena belajar Induk-nya Ilmu.

What the fuck! Are you kidding me, Lord?

Demikian lah kalimat sambutan saya sesaat mendengar cerita yang tengah terjadi. Bahaya disorganised-thoughts benar-benar terjadi. Khususnya ketika ilmu tidak lagi berbanding lurus dengan perilaku. Ilmu yang ia produksi di dalam pikiran, dibuktikan dengan lahirnya tulisan, ternyata tidak bisa difalsifikasi dengan ketekukan di dalam sebuah tindakan. Tindakannya hanya habis untuk bergosip, bercanda, sembari menghakimi kebodohan-kebodohan yang ada di sekitarnya. Padahal, di saat ia bergosip, bercanda, dan melakukan main hakim sendiri, ia tengah memproduksi kebodohan yang sama.

Ya, demam ketika sedang berada di atas angin, hingga lupa menginjakkan kaki di atas tanah.

(Pada dasarnya saya sangat sulit membenci, tapi jika sekali benci, saya pun enggan berniat damai ataupun memaafkan. Hingga tulisan ketidak-sepakatan ini dibuat, saya masih yakin bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan ketika seseorang berniat pergi. Pergi? silakan pergi.)