Sejak pertengahan Maret 2016, hari-hari saya tak pernah lepas dari lagu A Million Little Pieces karya band semi-terkenal dari Inggris, Placebo. Sebuah lagu yang sedikit menyentuh ingatan saya terhadap beberapa hal. Pertama, ingatan tentang “ketakutan”, ialah sebuah penyakit psikis yang tidak semestinya saya sebutkan disini. Kedua, ingatan tentang bagaimana menjadi seorang teman yang baik untuk diri sendiri. Ketiga, ingatan saya tentang konsep orang yang lain(Otherness), bagaimana cara memahami dan mengerti keliyanan lewat perspektif kita yang notebene adalah “lain” dari sosok yang lain itu. Terkadang saya berpikir bahwa konsep “keliyanan” sangat politis, kompleks, dan paradoks. “Lain” dari sisi mana, untuk apa meliyankan, seperti apa keliyanan itu dipersepsikan, dan untuk siapa yang lain itu mencoba diliyankan? Pada akhirnya, pertanyaan itu akan membawa kita ke dalam satu pertanyaan akhir dan bersifat paling utama : benar kah ada yang lain di dunia ini?
Tanpa saya sangka sebelumnya, Official Video A Million Little Pieces, berusaha untuk mewacanakan gagasan peliyanan itu. Bagaimana sebuah kelompok yang tak melek teknologi menemukan handphone, tv, radio, remote tv, lampu, dll di wilayah teritorinya. Benda-benda yang mereka temukan lantas disusun dan menjadi bagian yang melekat pada tubuhnya, ditata sedemikian rupa dan membentuk sebuah benteng perbatasan, ada juga uang dollar yang digunakan sebagai alat penyeka ingus. Tokoh utama (yang menemukan hp) justru ditangkap dan dibawa pergi oleh si pemilik hp. Di sela-sela perjanannya, tokoh utama melihat video pertunjukkan Placebo dan menirukan lirik lagu yang dinyanyikan…”So i’m leaving this worry town, please no grieving, my Love, Understand”
Secara garis besar, Official Video dari A Million Little Pieces terbagi menjadi tiga squence utama. Squence pertama menceritakan tentang tokoh utama yang dibawa dari hutan ke kota “peradaban”, kemudian disambung dengan squence kedua dimana para pengikut tokoh utama berjaga-jaga atas wilayah teritorinya. Penjagaan ini secara tersirat menceritakan bahwa kelompok itu (A) merasa “terancam” atas hilangnya ketua mereka. Di sisi lain, didapati satu kelompok (B) sebagai pihak yang tertuduh atas hilangnya si tokoh utama. Tuduhan ini beralasan mengingat anjing pelacak dari kelompok A berhenti di wilayah kelompok B. Terakhir, Official Video yang berdurasi 4 menit 50 detik itu, ditutup dengan narasi peperangan antara kelompok A dan B. Lantas, bagaimana dengan nasib tokoh utama?
Gagasan besar tentang persimpangan antara modernitas dan tradisionalitas justru ada di titik itu. Sebuah proses dimana peperangan yang—tidak selalu bersifat kontradiktif—justru mewujud tanpa melibatkan tokoh utama. Peperangan itu ada di wilayah antah-berantah yang samasekali tidak dikenali (sekaligus tak terjamah) oleh aktor-aktor utama. Dalam hal ini, jika dikaitkan dengan gagasan modernitas dan tradisionalitas, para aktor utama itu adalah para pemegang kuasa yang real maupun unreal. Real bisa diartikan dalam hal kepemilikan atas teknologi, dimana di video tersebut direpresentasikan lewat si pemilik hp. Dan, sesuatu yang bersifat unreal dimanifestasikan lewat sisi “ketokohan” dari si tokoh utama, yaitu munculnya perasaan tidak aman, rasa kehilangan, sekaligus kebutuhan dari kelompok A untuk mencari ketuanya. Kebutuhan akan kehadiran seorang tokoh (yang hilang entah dimana) merupakan penggerak dari sistem sosial kelompok A, suatu hal yang memerantarai perang itu kemudian ada.
Apa yang ingin saya tekankan disini adalah : persinggungan antar gagasan yang kontradiktif—walaupun saya sebenarnya masih ragu untuk menyebut modernitas dan tradisionalitas sebagai gagasan yang benar-benar berlawanan—tidak selalu beroperasi pada arena fisik yang sama. Tidak berarti bahwa ketika tokoh utama menemukan hp berarti ia representasi tradisionalitas yang menemukan gagasan modernitas (lewat hp). Segala piranti yang digunakan merupakan pra-lambang atas suatu gagasaan yang lebih sistematis dan kompleks, yang beroperasi di wilayah lain, tak dikenali sekaligus tak terjamah. Ketika simbol itu ditiadakan, tidak berarti bahwa gagasan terhadap-nya lantas mati dan tidak bekerja lagi. Maka dari itu, menurut hemat saya, sesuatu yang kita lihat (atau sesuatu yang bersifat fisik) tidak selalu memiliki arti yang benar dan sah. Selalu ada maksud lain yang mengikuti, entah ikut dalam ruang dan waktu yang sama, atau disembunyikan dalam ruang dan waktu yang lain.
Lewat video A Million Little Pieces misalnya, gagasan untuk meliyankan hadir dalam sebuah proses panjang yang memerantarai perang itu muncul, bukan pada benda-benda yang menjadi simbol ke-liyan-an. Misal, seperti penggunaan uang dollar yang justru digunakan sebagai alat penyeka ingus, atau TV yang justru disusun sebagai benteng perbatasan. Sistem penggunaan itu dikenali tidak dalam koridor yang sama seperti apa yang ada di dalam pikiran kita. Kelompok A memiliki cara sendiri untuk mengonsepsikan bagaimana sebuah benda “baru” digunakan. Dengan kata lain, kita tidak bisa serta merta menjustifikasi bahwa : jika benda itu tidak digunakan dengan cara yang sama dengan apa yang kita gunakan, berarti kelompok itu patut untuk kita liyan-kan. Memang lain, tapi tidak untuk kita lain-kan.
Proses meliyankan berbanding lurus dengan munculnya kepentingan untuk menyeragamkan dengan hal-hal yang berada di luar-sana. Klaim atas sesuatu hal yang lain secara tidak langsung menciptakan garis pembatas antara kedirian subjek Aku dan apa yang lain. Sekaligus menunjukkan celah penyeragaman antara subjek Aku yang samadengan aku-aku-aku (tak terbatas) di luar sana. Seperti alasan kenapa kemudian antar anggota kelompok A berkerumun untuk berperang melawan kelompok B. Padahal, baik kelompok A maupun B berada dalam satu masyarakat yang “sama”, yang berbeda dengan masyarakat dari si pemilik hp. Jangan-jangan, ketika kita sedang membedakan diri kita dengan sesuatu, di saat yang sama, kita sedang berupaya mencari persamaan dengan hal yang lain di luar sana.