
Kampung Transmigran,
Dusun Trimanunggal, Desa Mukti Jaya, Sanggau, Kalimantan Barat,
Juni hingga Juli 2014.
Jalur sungai merupakan transportasi alternatif ketika jalur darat rusak karena hujan. Dulu, jalur sungai menjadi transportasi utama dan tempat pertemuan utama antar warga. Entah untuk mandi, berdagang, atau sekadar barter hasil ladang. Kini, beberapa kegiatan warga tersebut telah berkurang. Mandi kini telah di-kamar-kan, berdagang sudah beralih di pasar darat, dan tradisi barter pun sudah tidak dikenal lagi. Permasalahan utamanya tidak terletak pada minimnya interaksi, melainkan berkurangnya hasil ladang. Orientasi berladang pun sudah bukan lagi diperdangkan (atau dikomersialisasikan), tetapi hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi (pertanian subsisten).
Pasar Meliau kini kian sesak, ruko-ruko besar berdiri, kebutuhan pokok (dan bukan pokok) bertambah karena adanya proses reproudksi pemaknaan terhadap apa kebutuhan “pokok” itu sendiri. Dulu, warga sekitar menganggap handphone bukan lah barang penting. Tapi, hari ini, hampir setiap orang membutuhkan hp untuk berkomunikasi dengan keluarga di berbagai daerah. Anak SMP pun telah mahir memainkan hp. Proses ‘penaikan’ makna terhadap kebutuhan itu menyebabkan laju arus transportasi turut naik. Warga ramai-ramai tiap minggu ke Pasar Meliau hanya untuk kulakan pulsa, atau beli hp baru merek China (yang berharga amat murah itu) untuk anak-anaknya, atau sekadar melihat busana baru yang sedang ngetrend di Meliau.
Lalu, siapa yang mendapat keuntungan jika tingkat mobilitas warga naik untuk berkunjung ke Meliau? Salah satunya adalah para penyedia sewa sampan bermesin. Sekali melewati sungai Kapuas, pelanggan mesti membayar 15.000 dengan durasi tempuh 20-25 menit. Disini lah saya merasa bahwa Indonesia adalah surga yang sangat menawan. Apalagi, jika bertepatan dengan senja yang turun ke Bumi.
Seperti riset-riset sebelumnya, kerja pemetaan bersama warga lokal merupakan harga mati dan haram untuk tidak dilakukan. Saat itu, saya bersama Bapak (kepala desa sekaligus keluarga piara) memetakan bagaimana posisi Desa Mukti Jaya. Pemetaan ini memakan waktu cukup lama, dan tenaga yang tidak sedikit. Terutama saat proses keliling desa untuk menyesuaikan validitas gambar dengan kondisi lapangan. Setiap peta hasil riset kemudian saya pasang di dinding kamar sebagai bentuk kenang-kenangan dan pengingat bahwa saya mesti jalan-jalan lagi.