Teks Pertama dalam Erster Theil – Also Sprach Zarathustra

·

·

Prolog

Di sela-kebosanan saya mengerjakan skripsi, hiburan saya satu-satunya adalah membaca dan melukis. Berbeda dengan mereka yang bisa menggunakan line-instagram-whatsapp-facebook-twitter-snapchat dll sebagai media hiburan, saya tak bisa mendapatkan sensasi itu. Dan, saat ini, saya sedang tertarik untuk menyelami pemikiran filsuf Freiderich Nietzsche. Terlepas dari segala bentuk sentimen terhadap sisi kontroversialnya (di akhir kehidupannya), saya pikir, Nietzsche merupakan salah satu pemikir yang paling mutakhir untuk membicarakan konsep Moralitas Barat. Nietzsche berada dan memiliki aliran tersendiri yang berbeda dengan tradisi kritisisme Marxist. Dan karena ketertarikan itu, ditambah dengan ikhtiyar menghalau rasa bosan, saya menulis tafsiran sekaligus hasil terjemahan dari teks utama Also Sprach Zarathustra.

 

Dalam proses pengerjaan, saya mengikuti metode penyampaian “tafsir” dan “terjemahan” ala Romo A. Setyo Wibowo. Saya kagum dengan ketelitian, kesederhanaan, dan kejujuran Beliau dalam menafsir dan menjermahkan teks Filsafat Yunani Lysis, Lakhes dan Xarmides. Beliau membagi pengerjaan ke dalam tiga tahapan : Memberikan pengantar yang merupakan hasil tafsirannya, lalu menerjemahkan secara Tekstual, dan memberikan catatan terkait istilah-istilah “inti” di bagian Catatan Akhir. Tak heran, bila Catatan Akhir di setiap bukunya pasti lah banyak dan mengantarkan satu perdebatan konseptual yang panjang. Metode tersebut saya pikir dapat menyelesaikan masalah ketidaklengkapan yang terdapat dalam sisi penerjemahan, maupun penunggalan yang ada di dalam kerja penafsiran. Terakhir, membuka adanya ruang kritik yang bisa dialamatkan kepada salah satu cabang pengerjaan, entah itu wilayah penafsiran, penerjemahan, maupun catatan akhir.

Sebuah Pengantar
Teks Pertama dalam Erster Theil – Also Sprach Zarathustra

Layaknya permulaan cerita pada umumnya, tak banyak gagasan konseptual yang ingin dibicarakan oleh Nietzsche. Ia hanya menarasikan sebuah perdebatan yang menjadi alasan besar di balik cerita Also Sprach Zarathustra. Meskipun demikian, Teks Pertama ini tak bisa disepelekan. Justru, teks ini merupakan “pintu” untuk melihat berbagai macam kemajemukan gagasan dan kompleksitas cara Nietzsche bertutur. Di satu sisi, Ia ingin memperlawankan sesuatu untuk menunjukkan suatu kondisi “ketiadaan” yang mungkin ada. Di sisi lain, ia tidak hanya ingin memperlawankan, akan tetapi juga “mengganggu” kondisi (moral) yang mapan. Tentu, dengan gaya bertuturnya yang sangat sadis, tegas, dan mengusik.

Nietzsche mengawali cerita Teks Pertama dengan sebuah proses “peniadaan”. Zarathustra yang melepaskan diri dari rumahnya, danau indah yang ia miliki, memilih mendaki gunung dan mencari tempat perenungan. Di sana lah, Zarathustra menjadi sosok yang bukan diri-nya. Tak disebutkan dengan cara apa ia menghabiskan waktu, Nietzsche hanya memberikan penekanan tentang dua hal yang ingin Zarathustra habiskan yaitu : semangat dan kesendirian. Dua hal yang merupakan kontradiksi dari apa yang diraih Zarathustra selama tinggal di rumahnya. “Di rumahnya” tidak bisa diartikan sebagai kondisi rumah dimana ia tinggal, akan tetapi rumah dalam arti Semesta yang luas dan tak terbatas. Hal tersebut terlihat dengan penggunaan diksi Sinar dan Kebahagiaan, dan menekankannya ke dalam kalimat : Ketika Kau tak mampu memiliki Kebahagiaan seperti mereka2yang telah Kau sinari! Siapa yang bisa menjamin bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa diukur, dan jika bisa diukur, siapa yang berani bahwa kebahagiaan yang didapat tiap orang berada pada batasan yang sama?

Berawal dari proses Peniadaan itu (dengan cara mengasingkan diri), Zarathustra memikirkan nasib “Matahari” yang selalu datang ke tempat persembunyiannya. Satu-satunya bagian dari Semesta yang tetap terhubung dengannya, meskipun ia telah menyangkal untuk terhubung dengan siapapun. Namun, pemilihan kata Matahari kemudian saya ganti dengan kata Bintang dengan alasan-alasan tertentu dan telah saya tulis di bagian Catatan Akhir (Endnote). Satu hal yang ingin saya tekankan adalah : Bintang hanya lah sebuah simbol. Kecurigaan utama saya, Nietzsche hendak mengutuk “keadaan” (bukan keberadaan) Tuhan selama ini. Sebab, tidak ada satu pun kalimat yang menyiratkan (maupun menyuratkan) bahwa Sesuatu (Tuhan) itu tidak ada. Tuhan itu ada tapi seperti itu lah keadaannya. Ketika Tuhan mampu “menyinari siapapun” dengan arti “dipercayai oleh siapapun”, akan tetapi, Tuhan (atau Bintang yang Agung itu) tidak mendapat sinar atau kebahagiaan dari mereka yang telah ia sinari. Terkait kenapa ketidakdapatan itu dialami oleh Tuhan akan dijelaskan dalam beberapa teks berikutnya. Kondisi tersebut—yang sepertinya tepat bila dianggap sebagai bentuk “pembelaan”—melatarbelakangi kenapa Zarathustra mesti turun ke Bumi dan mencerahkan umat manusia.

Bagian Pertama | Sebuah Pidato Pembukaan

Ketika berusia tiga puluh tahun, Zarathustra meninggalkan rumah dan danau indah yang ia miliki, dan berangkat lah ia mendaki sebuah gunung. Disana, ia menghabiskan semangat[i]dan kesendiriannya[ii]  selama sepuluh tahun, tanpa sedikit pun merasa lelah. Pada akhirnya, perenungan itu membuat hatinya berubah. Suatu pagi, sebelum Fajar Mahatahari[iii]menyingsing, Zarathustra melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata kepada matahari :

“Hei, Kau, Bintang yang Agung[iv]! Lalu apa kebahagiaan bagi-Mu? Ketika Kau tak mampu memiliki Kebahagiaan seperti mereka[v]yang telah Kau sinari!”

Sepuluh tahun, Kau datang dan bersinar tepat di atas tempat persembunyianku : Akankah Kau tetap bersinar dan menerangi seluruh perjalanan ini, jika tanpa kehadiranku, tanpa seekor burung elang dan ular kesayanganku?

 

Tapi, kami selalu menungguMu di setiap Pagi, mengais limpahan sinarmu dan berharap diberkati olehMu.

 

Lihat lah! Aku lelah dengan semua Kebijaksanaan ini; seperti seekor lebah yang lelah mengumpulkan madu, aku memerlukan uluran tanganMu dan sejenak membaringkan diri.

 

Ingin sekali ku bergerak dan bertindak[vi]: sampai Kebijaksanaan itu mampu merengkuh  segala Kebodohan yang mereka miliki, sampai orang-orang miskin bisa bahagia karena mereka yang kaya.

Oleh karena itu, aku harus menceburkan diri ke sebuah jurang yang dalam : sama seperti apa yang Kau lakukan di kala malam hari, ketika Kau menenggelamkan diri ke dalam laut, dan Cahaya Kegelapan[vii] pun datang kemudian. Ya, itu lah Kau, Bintang yang Agung!

 

Sama sepertimu, aku harus turun ke Bumi[viii]. Dan demi panggilan seluruh umat manusia, aku akan segera turun.

 

Maka berkatilah aku, Wahai mata yang tenang[ix], mata yang dapat melihat seluruh Kebahagiaan meskipun Kau tidak bisa melihatnya, dan Kau tidak pernah merasa iri akan hal itu!

 

Berkati lah cangkir ini, cangkir yang ingin diisi penuh oleh limpahan berkat. Lalu, Air yang Suci itu akan mengaliri seluruh tempat yang mencerminkan KebahagiaanMu.

 

Lihat lah! Cangkir ini tak lagi berisi dan Zarathustra ingin menjadi manusia lagi.

– Maka, turun lah Zarathustra ke muka Bumi.

[i]Geistes bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa proyeksi; seperti Jiwa, Sukma, Ruh, Semangat, Rohani, dan diksiyang memiliki pemaknaan terhadap hal-hal yang bersifat nir-material dan berhubungan dengan “tubuh”. Dalam konteks kalimat ini, Hier genoss er seine Geistes und Seiner Einsamkeit und wurde dessen zehn Jahr nicht müde, saya memilih kata “Semangat” yang menjadi pra-lambang atas “pilihan” Zarathustra untuk meninggalkan Rumah dan Danau yang ia miliki. Sebuah pilihan yang diambil secara “sadar” (kesadaran yang bersifat nir-material), dan ketika ia mengambil pilihan dengan sadar, artinya  Zarathustra memiliki “semangat” yang tersembunyi dalam tindakannya itu. Selain itu, kata Semangat lebih selaras jika dihubungkan dengan kalimat berikutnya : wurde dessen zehn Jahr nicht müde jika diterjemahkan selama sepuluh tahun, tanpa sedikit pun merasa lelah. Ada hal-hal (masih bersifat nir-material) yang menyebabkan Zathustra tidak pernah merasa lelah atas persembunyiannya itu. Satu-satunya alasan di (bahasa) Indonesia yang mampu menerjemahkan kondisi tersebut adalah kata “semangat”

[ii]Kata Einsamkeit sebenarnya merujuk pada hasil dari proses mengasingkan diri. Dia tidak serta merta merupakan subjek yang “sendiri” akan tetapi ada proses yang mendahului. Akan tetapi, jika diterjemahkan secara penuh, kalimat ini akan terkesan “hancur” bila dibaca. Maka dari itu, saya memilih kata “kesendirian” yang menujukkan “pembendaan” atas proses menyendiri itu, yang secara tak langsung, juga menunjukkan hasil dari proses yang manunggal itu.

[iii]Awalnya, saya pikir kata Morgenröthemerupakan salah satu kata kunci (Filosofis) Nietzsche. Setelah saya berkorespondensi dengan dua orang teman saya di Jerman, ternyata kata tersebut merujuk pada sebuah kondisi peralihan dari malam ke pagi hari. Lebih tepatnya, sebuah titik waktu dimana Matahari hendak terbit tapi belum terlihat penuh. Jika diselaraskan dengan lanskap Indonesia, istilah yang mampu menghadirkan nuansa peralihan itu adalah Fajar Matahari.

[iv]Grosses Gestirn, bila diterjemahkan secara harfiah, artinya Bintang yang paling Besar. Tentu, kata terjemahan ini tidak nyambung dengan gaya ujaran Nietzsche yang sadis dan tegas. Bila di kalimat sebelumnya saya memakai kata “Matahari” dan kalimat ini saya menggunakan kata “Bintang”, hal itu dikarenakan keduanya berasal dari isi/pesan yang sama sekali lain. Matahari, menunjukkan kondisi yang sebenar-benarnya terjadi bahwa Zarathustra keluar dari tempat persembunyian di kala Matahari hendak terbit. Nietzsche, di kalimat sebelumnya, hendak mendeskripsikan suatu suasana yang membuat Zarathustra mengata-ngatai sesuatu yang lain, yaitu si Gestirn. Dan, Gestirn disini bukan lagi sesuatu yang sedang dideskripsikan oleh Nietzsche, akan tetapi merujuk pada simbol penokohan tertentu. Saya tidak bisa bilang bahwa Gestirn merupakan kata kunci Filosofis Nietzsche. Sebab, kata tersebut tidak hadir sebagai konsep (atau logika alur cerita), melainkan murni berperan sebagai “tokoh”.

[v]Welchen du Leuchtest, untuk menerjemahkan kalimat ini sangat tergantung pada kejadian yang ada di kalimat sebelumnya, yaitu wenn du nicht Die hättest.Nietzsche agaknya ingin menunjukkan satu kontradiksi terkait siapa yang memberi kebahagiaan akan tetapi tidak mendapat kebahagiaan yang “sama”. Dan, Ia yang memberi kebahagiaan tidak mendapat kebahagiaan dari mereka yang ia beri kebahagiaan, bisa jadi kebahagiaan yang sama bisa jadi tidak sama. Titik penekanannya ialah, Ia (sang pemberi Kebahagiaan) mendapat kebahagiaan yang sama (dengan apa yang ia beri), dan mendapat kebahagiaan dari mereka yang telah ia beri Kebahagiaan (sama karena : ia telah memberi sesuatu kepada seseorang, dan seseorang mestilah memberikan sesuatu kepadanya)

[vi]Kata Verschenken dan austheilen bila diartikan ke bahasa Indonesia berarti “memberi” dan berinteraksi. Jika menggunakan kata terjemahan tersebut, kerancuan akan terjadi di kalimat berikutnya. Pada intinya, sang tokoh utama Zarathustra memiliki daya-tenaga-usaha-keinginan untuk melakukan sesuatu dan mengubah sesuatu. Dan sesuatu itu adalah Bis die Weisen unter den Menschen wieder einmal ihrer Thorheit und die Armen einmal ihres Reichthums from geworden sind, sampai Kebijaksanaan itu mampu merengkuh  segala Kebodohan yang mereka miliki, sampai orang-orang miskin bisa bahagia karena mereka yang kaya. Dan, kata yang paling tepat untuk mengekspresikan hal itu adalah “bergerak” dan “bertindak”.

[vii]Kata Unterwelt Licht berkaitan erat dengan pembahasan yang telah disampaikan di kalimat sebelum-sebelumnya, yaitu perihal “sinar” dan “matahari”. Dan Statement utama Nietzsche bermula dari kalimat ini. Nietzsche hendak membuka satu hal yang “baru” dengan menunjukkan kondisi yang “berlawanan” dari apa yang kita dapati sekarang (perihal kesekarangan). Dan, di teks pembukaan Zarathustra, konteks kesekarangan itu, tak lain ditunjukkan dengan simbolisasi “sinar” dan “matahari” atau sesuatu yang “terang benderang” yang “maha-Agung”, dan membawa penuh “kebahagiaan”. Dan, satu kata yang berkontradiksi ketat dengan hal tersebut adalah : Cahaya Kegelapan. Saya sengaja menggunakan definisi yang “ketat”, guna memposisikan ada suatu hal yang benar-benar “berlawanan” yang ingin disampaikan oleh Filsuf itu.

[viii]Dan sesuatu yang berlawanan yang tertera pada catatan endnote sebelumnya, berhubungan dengan kata kunci Untergehen. Jika sebelumnya Zarathustra memilih untuk mengasingkan diri—entah di sebuah planet lain atau di sebuah tempat yang masih di “bumi” akan tetapi tak terjamah oleh manusia pada umumnya—saya tetap saja menggunakan istilah “turun ke Bumi”. Sebuah terminologi filosofis (?) yang mendorong seorang subjek untuk turun ke sebuah tempat yang tidak sedang (atau tidak pernah) dihuni oleh sang Subjek.

[ix]Saya sendiri sebenarnya merasa rancu dengan kata terjemahan ini : Mata yang Tenang. Sebab, saya tidak bisa menemukan diksi yang pas untuk menggambarkan maksud dari kalimat itu. Ibaratnya, sebuah mata yang “sekalipun ia tahu tapi ia tidak berbuat apa-apa”. Mata itu sekadar melihat dan mengamati. Dengan kata lain, tenang dan terjaga dalam posisinya tapi selalu menyimak detil. Dan detil yang dimaksud adalah pancaran sinar (kebahagiaan) yang telah ia beri kepada seluruh umat manusia.