Arti Penting Rasa Senang

·

·

Saya harus jujur, setidaknya jujur untuk diri saya sendiri, bahwa saya bosan. Beberapa kawan melabeli saya sebagai sosok yang tak kenal rasa bosan, betah berkutat dengan urusan yang itu-itu saja. Misal, selera musik saya yang tak pernah lepas dari Portishead, Placebo, dan Homogenic. Tempat makan yang selalu bisa dipastikan antara Mas Kobis atau Bu Bagyo. Tempat nongkrong di Semesta atau Warung Lidah Ibu. Tidak pernah ganti, setidaknya hal itu lah yang diamati beberapa orang. Mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya utuh.

Rasa bosan, menurut saya, hanya ada ketika kita melakukan sesuatu yang samasekali tidak kita sukai. Jika saya memang “suka” Portishead, Placebo, Homogenic, kenapa saya mesti ngrasa bosan? Rasa-suka terkadang penting sejauh ia [berhasil] mengaktifasi laku manusia untuk lebih tekun. Meskipun ia hanya tau tiga partikel kecil di dunia ini dan berbeda dengan kuantifikasi objektif orang lain yang tau 100 partikel pengetahuan dunia, akan tetapi ia mampu menjelaskan 100 unit terkecil dari partikel di dunia itu. Di pihak lain, belum tentu ia bisa meraih 100 bagian terkecil dari 100 partikel kuantitas objektif itu.

Sialnya, saat ini saya sedang merasa bosan. Saya mengerjakan sesuatu yang samasekali tidak pernah saya sukai, skripsi. Alasan pertama, kuliah di Antropologi bukan lah pilihan saya sendiri. Kedua, saya telah tergiur ajakan kerja di sebuah komunitas di Jakarta. Mau tidak mau, saya mesti menyelesaikan apa yang harus saya tuntaskan. Hanya demi “restu” agar bisa menekuni apa yang saya sukai, tak lain bidang Seni dan Ilmu Pengetahuan [Filsafat]. Tidak mungkin bisa ke Jakarta jika saya belum lulus. Juga tidak mungkin saya bisa ambil sekolah lagi jika saya belum lulus. Dan fase yang sedang saya jalani saat ini, benar-benar memberikan pelajaran hidup. Bahwa “rasa suka” memang penting karena ia mampu mengaktifasi ketekunan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Saya pikir konsep ini juga berlaku (bahkan perlu diberlakukan) ketika seseorang hendak menyukai lawan jenis. Apakah orang yang kelak kita sukai itu mampu mengaktifasi ketekunan kita sebagai seorang manusia yang berpikir dan bergerak? Misal, bersama orang itu, kita bisa melakukan suatu project, tulisan, atau karya seni. Maksud saya, rasa-suka barang pasti mendorong seseorang untuk menjadi sosok yang “aktif”, akan tetapi belum tentu ia bermakna produktif. Ruh produktif hanya ada ketika kita berusaha mengembangkan sesuatu yang kecil/sedikit/hanya beberapa itu menjadi unit terkecil yang baru. Singkat kata, adalah sebuah proses yang bersifat produktif internalistik. Jika dengan orang yang kita sukai/senangi tidak membuat kita lebih tekun dan produktif, alangkah baiknya perlu dipertimbangkan lagi.