Sulit untuk mendeskripsikan bagaimana kehidupan saya untuk saat ini. Banyak hal-hal yang terjadi di luar prediksi, begitu intim, begitu dekat, sekaligus begitu melekat. Ruang yang gelap pasca api itu padam, kemudian menyala lagi. Oleh seseorang yang, tak mungkin saya sebut namanya di sini, begitu paham tentang bagaimana dan mengapa kita harus memilih jalan tersebut. Sebuah pilihan yang mungkin jauh dari hingar-bingar keterkenalan, fokus pada apa yang menurut nurani kita “benar”, dan, tidak perlu tengok godaan kanan dan kiri. Kita adalah apa yang kita yakini benar, dan bukankah pada akhirnya kita yang kelak menengguk pil merah atau pil biru?
Pertemuan pertama; saya disuguhi senyum yang tak pernah ada habisnya, dilempar banyak pertanyaan yang saya pun kebingungan menjawabnya, diperlihatkan puluhan temuan betapa beringasnya industri ekstraktif di negara ini merusak kesatuan hidup sosio-ekologis yang menyejarah. Darinya saya belajar, “betapa sia-sianya hidupmu, Mbrang. Kau makan enak, saudaramu di sana belum tentu bisa makan.” Pertemuan pertama yang memantik api di dalam kalbu, menghangatkan relung yang telah lama dingin, dan membangkitkan pikiran untuk melihat sesuatu dari segala macam sisi. Salah memang. Karna, selepas kematian Ino, saya menutup segala kemungkinan untuk melakukan sesuatu yang “baru.” 4 tahun merepetisi hal-hal yang sama dari bacaan, aliran musik, hingga selera makan.
Pertemuan kedua; api membakar di tempat yang sama. Mengeluarkan beberapa letupan diawali dengan kata permisi agar saya tidak sakit hati. Ya. Saya dikritik betapa kurangnya skripsi yang saya tulis. Mengkritik dengan caranya yang khas, dari bagian per bagian hingga terbangun satu narasi sistemik yang padat. Pada pertemuan yang kedua ini, saya diketuk dengan sodoran beberapa nama. Dan literally semua nama yang tidak pernah saya dengar samasekali. Api yang awalnya memantik pada satu sisi, kemudian menjalar dari satu saraf ke saraf yang lain. Membuka kanal-kanal yang telah lama ditimbun pikiran-pikiran kebencian dan rasa sesal, dan membakar tetimbunan itu. Relung, pikiran, tubuh, saya menjadi hangat, tetimbunan itu hilang disapu api dan begitu dahsyat. Saya, hidup, lagi.
Pertemuan ketiga; berbagai sudut telah dikuasai api, hingga saya menyerah dan tidak mungkin lari dari penguasaannya lagi. Letupannya tidak lagi kecil, tapi semakin meledak-ledak dan memicu saya untuk belajar, belajar, dan belajar lagi. Saya diketuk untuk belajar ke ruang lain, agar tidak hanya merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan saat ini. Nama-nama asing pun bertambah. Setidaknya ada empat nama dan baru lah saya tau, nama-nama tersebut eksis dan berjasa di kehidupan ini. Api di tiap sudut kian membesar. Saya tidak lagi hangat, tapi justru merasakan panas akibat bentang pengtahuan yang saya baca dari nama-nama asing tersebut. Hingga baru lah saya sadar bahwa : saya butuh ruang-lain untuk menyalurkan api yang membesar itu. Ruang lain di mana saya bisa naka habis-habisan dan menjaga agar api tersebut menjalar ke orang lain. Api yang saya yakini sebagai Kebenaran.
Api kini telah menguasai semua saraft yang saya punya. Membakar saya tanpa kenal sisa. Api yang kini tidak mungkin bisa dipisahkan dari tubuh saya, bahkan, secara spiritual, api tersebut membesar di balik punggung. Siap menelan wajah saya ketika melakukan hal-hal yang tidak berguna, atau membuat susah nasib orang lain, atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan tubuh kemanusiaan.