Terima kasih, Nek

·

·

Jika benar bahwa biologi tidak bisa berbohong, seharusnya di usia saya sekarang saya masih bisa berkeliaraan dan beramah-tamah perkawanan. Hasrat untuk mencari yang meledak-ledak dan tak bisa ditangkap di mana pangkal berpijak, namun kenyataannya yang terjadi sangat lah lain. Saya tengah berada di sebuah titik di mana pengetahuan telah mengantarkan saya akan sebuah pilihan jalan yang, jika saya tekuni dengan sabar dan dalam, dapat menjawab salah satu bagian dari persoalan yang besar. Terlalu muluk-muluk jika bermimpi besar pada tahap awalan. Sebab, yang dibutuhkan adalah menarasikan pikiran yang mengaduk-aduk dan berkecamuk dalam beberapa tahun perenungan saya ke belakang. Berada di titik ini sama dengan berada di depan sebuah pintu rumah yang hendak saya bangun, di mana seluruh desain ruangannya saya dapatkan dari nama-nama besar yang beberapa kali rumahnya pernah saya jenguk. Pola itu telah saya temukan, tentang bagaimana mereka membangun rumah yang dipenuhi jiwa-jiwa yang terang dan tak terkotori oleh udara kesombongan.

Mungkin saya harus meng-iya-kan perkataan seorang tetua yang pernah saya temui secara tidak langsung di Kalimantan. Ibu tetua Dayak itu bilang bahwa, “di pundak mbak ada seorang anak kecil. Cantik sekali. Dia terlihat bahagia. Namun di belakang mbak, ada nenek-nenek tua yang saya amati sudah bersama mbak sejak pertama kali tiba di kampung ini. Rasa aneh, tak mungkin bisa ke Kalimantan sedangkan mbak sendiri datang dari Jawa. Dia seram mbak, sepertinya dia mantan dukun”

Ucapan itu lah yang saya pegang hingga sekarang pada kadar yang secukupnya. Saya menghormati Ibu tetua Dayak tersebut sebab pengalaman hidupnya lah yang mengantarkannya pada kemampuan-kemampuan yang tak mungkin bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang misalnya; gemar tamasya, pamer kekayaan, atau hobi pengajian. Benar atau tidak adalah pekara lain, namun bagaimana pun, tuturannya sedikit menjawab kenapa beberapa kali saya sempat mengalami hal-hal yang di luar kontrol atas kesadaran saya. Pertama, tentang kebiasaan saya menulis cerita-cerita dengan sendirinya tanpa saya dahului sebuah aturan main bernama konsep. Salah satu cerita yang sempat saya tulis pernah dibaca oleh bapak piara saya dan beliau memasang muka kaget tapi penasaran. “Darimana mbak bisa tau cerita ini? Mbak baru datang kemarin sore”

Bahkan saya tidak sadar kapan menulis cerita tersebut. Saya hanya ingat bahwa tepat jam 8 malam saya naik ke lantai 2 rumah bapak piara saya dan duduk di jendela. Sembari melihat dan melepas pandangan ke perkebunan sawit yang terhampar, saya ingat bahwa semalam bertemu dengan sosok mengerikan yang bermain di empang. Apakah itu nenek yang dimaksud oleh Ibu tersebut? Saya tak yakin. Tak mungkin sosok mengerikan—yang matanya merah, dengan rambut panjang terurai dan acak-acakan, serta gigi taring yang menjulur panjang—mengikuti saya selama ini. Jangankan mengikuti, bertemu untuk kedua kali pun saya tidak akan rela.

Peristiwa kedua, di tengah perjalanan pagi saya ke sebuah banker peninggalan Jepang di daerah Merapi, saya melihat seorang wanita muda membawa kepala di tangannya. Di sebuah rumah tua dengan arsitektur Belanda. Satu cerita saya gambarkan detil di atas sebuah kertas, saya tulis pula rangkaian perjalanan mengenai wanita tersebut; kurang lebih wanita tersebut terjun dari rumahnya dan kepalanya tertancap pada sebuah kayu hingga lepas ke tanah. Dia tidak bunuh diri, namun terjun untuk menghindari para serdadu yang sedang mengejarnya.

Seorang teman membaca kondisi saya yang sedang tidak baik dan memapah saya ke sebuah toko di pinggiran jalan. Saya beranikan diri untuk membaca dan menanyakan pada empunya warung. Kedua kalinya, ada orang yang terheran-heran; “darimana mbak bisa tau cerita ini?” Darah dalam tubuh saya menjalar cepat, detak jantung saya bergerak tak terkendali, seolah saya sedang berada dalam kondisi diawasi dan diancam.

Kini, saya harus belajar untuk memaafkan—bisa jadi harus mensyukuri—atas sosok yang diberikan. Mengerikan atau tidak, sosok tersebut bukan lah saya yang meminta apalagi berusaha untuk mencari-cari atau membangkitkan. Saya biarkan pada tempat dan tepat pada kadarnya. Karena, pada sisi yang lain, saya merasa beruntung telah dilempar ke sebuah titik yang dapat menembus dan melampau kondisi mentalitas-dan-biologis usia saya, yang jika dikalkulasi, baru berumur 25 tahun hidup di muka bumi.

Terima kasih, Nek.