[i]

·

·

Satu hal yang baru aku ketahui, bahwa definisi formal kita akan sesuatu, justru meluluh-lantahkan kemurnian yang mustahil untuk bisa distrukturasikan. Aku telah mencintainya; melampaui seluruh kesementaraan sukma dan ragaku.

Semesta telah melemparku pada sebuah persimpangan yang janggal. Sementara aku, kini, tengah menikmati keseluruhan peranku dalam mengabadikan memori keindahan kehadirannya lewat ucapan, tindakan, kecupan, dan pelukan yang, aku sendiri pun, enggan menyudahi malam.

Keindahannya tergores lekat pada dinding-dinding sensorial tubuhku, meronggai setiap kelemahanku yang seketika sirna oleh putaran sang waktu. Aku sadar bahwa ketidak-mungkinan ini hanya lah satu bagian dari rangkaian panjang, yang mungkin ketika matahari terbit, ia akan menghampiri sebelah bahuku, dan ketika matahari terbenam, pada bunga yang lain ia kelak bersandar.