Terlalu naif jika saya bilang bahwa semua orang itu baik, tidak ada yang jahat. Kenyataannya, orang jahat itu eksis, setidaknya termanifestasi lewat beberapa perilaku, yang definisinya tidak lagi abstrak, melainkan sepenuhnya materil. Jahat itu ketika:
1). Intimidatif
2). Kontradiktif
3). Diskriminatif
Dan, jika kejahatan tersebut telah naik level, yaitu dilakukan secara bersamaan, maka tahapan tersebut telah naik level menjadi: sinting.
Selama tujuh belas tahun saya tinggal dan dibesarkan di sebuah tradisi orang kampung, yang menganggap bahwa kejahatan tidak lah datang dari orang lain, melainkan dari kita yang kurang berlapang dada dalam memahami dan menerima sisi yang berbeda dari orang tersebut. Ada baiknya memang. Satu sisi kita diajarkan untuk meletakkan keharmonisan relasi sosial sebelum kemarahan diri kita sendiri, dan secara tidak sadar, mendidik kita untuk menerima perbedaan (sekalipun itu menyakitkan). Saya tidak sedang bilang bahwa proses tumbuh saya saat itu adalah salah, namun, tidak lagi relevan untuk realitas sosial yang saya alami, dan itu bertubi-tubi, selama sebulan ke belakang.
Awalnya saya mengira bahwa mungkin apa yang saya alami tidak dialami oleh orang lain, saya yang terlalu “brandalan,” atau saya yang mungkin hyper-sensitive. Setelah memvalidasi sana sini, perkiraan saya salah total. Semua mengalami hal yang sama, perasaan diintimidasi, mengamati kontradiksi antar satu perintah dengan perintah yang lain, dan juga perasaan didiskriminasi. Artinya, respon ini tidak hanya saya alami sebagai unit individual, melainkan dirasakan secara komunal. Validasi satu telah terpenuhi. Saya menjadi muak, saya menjadi benci. Dua hal yang samasekali tidak pernah saya rasakan dalam hidup. Satu-satunya jenis perasaan negatif yang secara materil ada di kepala saya adalah: tidak suka; yang itu tidak muak, juga tidak benci. Masih pada taraf semata perbedaan preferensi dan masih bisa diterima oleh akal pikiran.
Suatu malam, saya pulang dengan kepala pening, telinga berdenging dan membuat perut mual. Di titik itu, saya bertanya-tanya kok bisa? Makan dan minum teratur, tidur pulas, dan tidak mengonsumsi snack yang aneh-aneh. Sampai di kost, saya muntah di kamar mandi. Jika itu vertigo, harusnya pandangan saya berputar seperti sebelum-sebelumnya. Pandangan saya masih normal, dan tidak membuat bagian tubuh yang lain terasa sakit. Saya mencoba menenangkan diri, sembari mencari tau kesalahan saya ada di mana. Salah makan? Kelebihan berpikir? Polusi udara? Atau masuk angin? Pertanyaan yang terlintas tidak bermakna apa-apa, sebab tubuh saya berfungsi dengan baik, dan saya pun masih bisa haha-hihi sama anak-anak SPR. Jika dalam keadaan mentally breakdown, saya pasti tidak ada membiarkan waktu sedikit pun untuk menyentuh hp, tidak ada tempat untuk haha-hihi. Fisik saya baik, mental juga iya.
Pada pukul 10, menjelang tidur, baru lah saya menemukan kesimpulan bahwa pening, mual, dan muntah merupakan simptom yang natural-biologis ketika secara pikiran tidak lagi bisa menampung sesuatu yang bersifat asing; materialisasi dari konsep jahat, yang tidak pernah saya kenal sebelumnya selama saya hidup. Perilaku yang intimidatif, kontradiktif, dan diskriminatif, yang terjadi secara bersamaan, dan bisa saya amati secara langsung dalam satu ruang dan satu waktu. Respon biologis merupakan benteng terakhir ketika kejahatan telah naik level menjadi sinting yaitu ketika akal pikiran tidak lagi mampu untuk memproses untuk menjelaskan, maupun memproses untuk memaafkan.
Sejak itu, cara pandang saya berubah drastis. Hasrat saya untuk tidak ingin basa-basi dengan orang lain naik ke level yang tertinggi, dan saya hanya ingin berinteraksi dengan orang-orang yang memang esensial. Membuang jauh-jauh orang-orang yang saya kategorikan sebagai “jahat” dan/atau sinting. Yang lebih ekstrim, saya tidak peduli jika mereka sakit, saya tidak peduli jika mereka mati. Tidak ada tempat untuk orang-orang yang telah berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain, tanpa menyadari bahwa sebagai seoarang manusia di muka bumi, tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya peran dari orang lain di sekitarnya.
Banyak orang bilang bahwa “Ghembrang itu galak,” maka Ghembrang yang sekarang semakin galak. N That’s okay. Ya, moment sebulan ke belakang menggiring saya untuk totally strict di mana akar dari hal tersebut adalah tekad dan prinsip. Saya tidak akan pernah membiarkan diri saya dirampok oleh orang-orang jahat, orang-orang sinting. Dan sudah semestinya saya hanya ingin terhubung dengan orang-orang esensial, yang lebih mendasar daripada orang-orang “penting.” Saya tidak lagi bisa berkata baik, sebab jahat bukan lagi ilusi, bukan lagi omong kosong.